<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>1) perihal KOMUNIKASI DASAR</title>
	<atom:link href="http://teddykw.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://teddykw.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 01:04:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='teddykw.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>1) perihal KOMUNIKASI DASAR</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://teddykw.wordpress.com/osd.xml" title="1) perihal KOMUNIKASI DASAR" />
	<atom:link rel='hub' href='http://teddykw.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dimensi Eksistensi Manusia dalam Seni, Ilmu, Filsafat, dan Agama</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/29/dimensi-eksistensi-manusia-dalam-seni-ilmu-filsafat-dan-agama/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/29/dimensi-eksistensi-manusia-dalam-seni-ilmu-filsafat-dan-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 17:17:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/2008/03/29/dimensi-eksistensi-manusia-dalam-seni-ilmu-filsafat-dan-agama/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Teddy K Wirakusumah PENGANTAR Eksistensi manusia dalam berbagai dimensi perlu dikenali  batas-batasnya. Hal demikian perlu, karena secara tidak  langsung menyoal kita sendiri. Kita  butuh  referensi mengenai itu. Namun, penulis menyadari bahwa materi yang dihadirkan tak begitu  &#8220;refleksif&#8221;, sehingga tidak  dapat  diandalkan. Tulisan ini memang tidak dibangun dengan metode  secara sistematis, sehingga tidak merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=50&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Teddy K Wirakusumah</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Eksistensi manusia dalam berbagai dimensi perlu dikenali  batas-batasnya. Hal demikian perlu, karena secara tidak  langsung menyoal kita sendiri. Kita  butuh  referensi mengenai itu.</p>
<p>Namun, penulis menyadari bahwa materi yang dihadirkan tak begitu  &#8220;refleksif&#8221;, sehingga tidak  dapat  diandalkan. Tulisan ini memang tidak dibangun dengan metode  secara sistematis, sehingga tidak merupakan keseluruhan yang unsur-unsurnya berhubungan satu sama lain secara kental.</p>
<p>Ketidaklengkapan materi ini sekaligus untuk mengajak pembaca menggali dari bahan yang lain.</p>
<p>EKSISTENSI MANUSIA DALAM SENI</p>
<p>Banyak definisi tentang seni pernah didengungkan. Diantaranya hanya menunjukkan perbedaan peristilahan, di antara  yang lain tampak memperlihatkan  pertentangan. Namun, seperti yang ditunjukkan Morris Weitz dalam Philosophy of the Arts (1950 : 2), berbagai perselisihan yang sia-sia dapat dihindari jika cap estetika  tidak ditempelkan pada satu potong dari seluruh tubuh seni, tetapi dipakai secara terpisah sebagai unsur pokok dari proses penciptaan, benda estetis, dan pengalaman estetis. Dalam  bukunya An Introduction to Aesthetics  (London,  1949), Profesor  E.F. Carrit mengutip pendapat sekitar 40 ahli  estetika yang representatif, yang mengungkapkan bahwa seni, sebagai proses kreatif adalah dari suasana hati, perasaan dan jiwa. Jadi Seni adalah ungkapan atau jiwa, perasaan, dan suasana hati yang diungkapkan.</p>
<p>Seniman bukan mengungkapkan perasaannya sendiri tapi apa yang  ia ketahui tentang perasaan manusia</p>
<p>Ungkapan perasaan tidak selalu ungkapan artistik. Ungkapan  artistik  bersumber  dari kualitas, citra  jiwa,  atau intisari  perasaan  atau  usaha sepenuhnya  untuk  membuat obyek bernilai ungkap.  Dengan demikian obyek  yang  seluruhnya  tidak bersifat ungkap tidak bisa disebut karya seni. Karena  pengertian ungkapan, seperti yang dipakai dalam pembicaraan estetika sangat terbuka bagi berbagai penafsiran dan salahpaham, maka istilah itu menjadi pokok pembicaraan dalam kritik; tetapi kritik ini dapat dipertemukan dengan uraian pengertian yang lebih tepat.</p>
<p>Seni adalah ungkapan atau perwujudan nilai-nilai.Karya seni itu bukanlah sekadar laporan tentang fakta-fakta melainkan proyeksi dari inspirasi, emosi, preferensi, apresiasi atau kesadaran akan nilai dari pembuatnya (seniman). Seni adalah bahasa spiritual yang mengungkapkan penilaian,  lebih daripada memformulasikan deskripsi-deskripsi objektif</p>
<p>Nilai adalah kualitas yang membangkitkan apresiasi. Seni  sebagai ungkapan nilai, terbit dari sikap  penghargaan.  Ia tidak hanya mencerminkan keadaan sekedar apa adanya tapi memilih, mengurangi dan mempertajam.</p>
<p>Nilai berbeda dengan fakta, sering semata-mata bersifat  khayali. Dan  lewat seni, nilai memperoleh semacam kenyataan  sosial  yang berbeda dari kenyataan ilmu.</p>
<p align="left">Nilai  diungkapkan dalam kegiatan kreatif seniman dan bertujuan menciptakan sebab-sebab nyata untuk apresiasi. Seniman menyampaikan sikap penilaiannya dengan karya-karyanya pada orang lain. Masalah bagi seniman adalah bagaimana menemukan kualitas dan bentuk-bentuk objektif yang dapat menggerakkan penanggap mendapati nilai-nilai yang ingin ia wujudkan dalam karya. Jika ia berhasil mengerjakan ini, maka ia telah mengungkapkan nilai-nilai.</p>
<p>Bagi penanggap, karya seni dipandang terdiri dari deretan  bentuk perlambang yang harus ditafsirkan. Masalahnya, bagaimana membekali diri dengan kesadaran akan nilai-nilai yang dapat menghubungkan dirinya dengan deretan bentuk perlambang itu. Tergantung kepadanya apakah karya seni  itu menghidupkan imajinasinya ataukah tinggal diam tak berbicara apa-apa. Ia harus membangkitkan dalam dirinya sikap yang sesuai sehingga ia mendapati nilai-nilai yang diwujudkan oleh seniman. Jika ia berhasil melakukan ini iapun mengungkap nilai-nilai dalam kontemplasi</p>
<p>EKSISTENSI MANUSIA DALAM ILMU</p>
<p>Jika  Seni  merupakan  perwujudan  nilai-nilai   yang berkaitan  dengan  jiwa , maka ilmu  lebih  bergelut  dengan fakta-fakta  dan berurusan dengan akal yang mengarahkan  dan membelokkan jiwa kepada hakikat benda.</p>
<p>Ciri  khas ilmu pengetahuan adalah  mencari  hubungan gejala-gejala  yang faktawi. Ia tidak puas menyatakan  benar sesuatu itu apa; begini dan begitu. Ia ingin tahu apa sebab­nya  sesuatu itu ada. Pengetahuan ilmiah  mencoba  menginte­grasikan yang terpotong-potong dalam pengetahuan pra  ilmiah pada  kesatuan. Dalam mencapai pengertian  ilmu  pengetahuan maju  secara  sistematis. Ia tidak  bersifat  menunggu  saja seolah-olah pada waktunya dan dalam situasi tertentu  terang pengetahuan akan menyingsing dengan sendirinya. Ilmu  penge­tahuan  harus mengusahakan pengertian melalui  penyelidikan. Ilmuwan  tidak akan menerima sesuatu apapun  sebagai  fakta dan kebenaran kalau sebabnya atau sumbernya tidak  diketahui dan dipertanggungjawabkan. Dengan demikian bahaya kekeliruan atau  ketidakbenaran dapat agak dikurangi. Ilmuwan  bersikap kritis.  Sekalipun demikian ia tidak kebal terhadap  kekeli­ruan dan kesesatan. Hanya dapat dikatakan bahwa pengetahuan­nya jauh lebih kokoh dan lebih dapat diandalkan.</p>
<p>Ketidaktahuan manusia untuk sebagian besar dilengkapi oleh  ilmu pengetahuan. Namun, ilmu pengetahuan  masih  juga mempunyai kekurangan dan keterbatasan, dan karena itu  tidak juga memuaskan</p>
<p>Cara  ilmu  berkiprah metodiknya  tidak  memungkinkan untuk meneropongi serentak seluruh realitas dalam totalitas­nya.  Walaupun  ilmu pengetahuan mencari  pengertian  dengan menerobos realitas sendiri, pengertian ini hanya dicari pada tataran empiris dan eksperimental. Maksudnya, ilmu  pengeta­huan membatasi kegiatannya hanya pada fenomen-fenomen yang &#8211; entah  langsung  atau  tidak &#8211; dapat  dicerap  oleh  indera. Tambahan pula, ilmu pengetahuan hanya meneliti dan  mempela­jari salah satu sektor tertentu dari seluruh realitas.  Cara kerjanya (terpaksa) fragmentaris atau terbagi-bagi. Fragmen­tarisme ini mudah menyebabkan bahwa orang tidak lagi melihat keseluruhan atau totalitas, dan perkaitan antara dia  dengan realitas.  Muncul  bahaya sikap berat sebelah.  orang  hanya tahu lorongnya sendiri. Dunianya kecil sekali. Padahal tiap-tiap  orang  sebetulnya menginginkan  dan  menghasratkan  di dalam  hatinya kesatuan dan sintesa. Dengan kata  lain  ilmu pengetahuan  tidak  menerobos sampai ke inti  obyeknya  yang sama  sekali tersembunyi dari observasi. Ia  tidak  menjawab perihal kausalitas yang paling dalam. Jika kita  mempelajari ilmu,  akan masih tertinggal beraneka ragam pertanyaan  yang bersifat  mendasar,  namun tidak termasuk ke  dalam  tataran empiris dan eksperimental. Kita &#8220;tahu&#8221; atau sekurang-kurang­nya merasakan adanya lapisan lebih dalam yang dapat  digali. Kita belum mencapai pengertian fundamental.</p>
<p>Adakalanya  kita  mendengar orang  mengatakan  bahwa cara bernalar dan mencari fakta oleh ilmu pengetahuan lebih banyak bersifat sentrifugal, artinya menjauh dari manusia itu sendiri beserta persoalan-persoalan  pribadinya,  daripada sentripetal, artinya memusat atau mendekati manusia  konkret atau &#8220;sang aku&#8221;. Persoalan-persoalan ilmu pengetahuan terla­lu  umum  dan  tidak mengena pada diri  pribadi  orang,  dan karena itu tidak mempunyai cukup kedalaman. Orang individual tidak  dihampirinya sebagai seorang &#8220;aku&#8221; melainkan  sebagai &#8220;dia&#8221; atau &#8220;manusia&#8221; saja</p>
<p>Karl  Jasper  menyebutkan  bahwa  iIlmu  pengetahuan adalah pengetahuan fakta dan bukan pengetahuan realitas yang asli,  yang menghasilkan suatu ikhtisar dan  pandangan  yang menyeluruh  dan meliputi keseluruhan realitas pada  dirinya. Padahal keseluruhan itu menjadi ruang hayat manusia.</p>
<p>Ilmu  tidak menyediakan cita-cita  yang  menggiurkan hati,  tidak  memberikan kaidah-kaidah mutlak  dan  bersifat mengikat demi tercapainya tujuan kehidupan yang ingin  dica­pai seseorang oleh dirinyanya pribadi, dan akhirnya  mungkin menjauhkan  dirinya dari masalah makna segala-galanya,  yang justru lebih dipentingkan orang. Sebab, setiap kali  manusia belajar atau menemukan sesuatu, ia ingin mencari lebih jauh lagi  dan  bertanya-tanya terus sampai saat  ia  mendapatkan jawaban mengenai &#8220;sebab terakhir&#8221;, yang menyingkapkan adanya semua  yang ada dan sekaligus menampakkan  bobot  sebenarnya dari semua yang ada.</p>
<p>EKSISTENSI MANUSIA DALAM FILSAFAT</p>
<p>Karl  Jasper mendukung gagasan, bahwa  semua  perta­nyaan  dan  persoalan yang berkaitan dengan  hidup  manusia, memakai  &#8220;aku&#8221;  sebagai pokok kalimat dan  ditelusuri  serta diselami sampai pada ke akarnya.</p>
<p>Jika kita disadarkan akan fakta-fakta ini dan menem­ukan  bahwa, kendatipun pengetahuan kita lebih  maju,  masih tertinggal suatu ketidaktahuan, pintu menjadi terbuka  untuk menggali  suatu lapisan mengenal yang berikut, yaitu  filsa­fat.</p>
<p>Filsafat merupakan pemikiran sedalam-dalamnya tentang semua hal yang bersentuhan dengan manusia dan &#8211; bagaimanapun juga caranya &#8211; bersangkut paut dengan dia dan hidupnya. Jadi filsafat akan berurusan dengan benda-benda, situasi-situasi, pertanyaan  dan masalah yang sebelumnya telah dijumpai  baik di tingkat pengetahuan pra-ilmiah maupun di tingkat pengeta­huan  ilmiah,  namun kali ini diselami ke dasar  yang  lebih dalam.</p>
<p>Sudah  barang tentu pertanyaan yang paling akhir  dan paling mendasar, sehingga semua pertanyaan lain tersirat  di dalamnya  dan dirumuskan kembali, ialah : &#8220;apa  makna  kehi- dupan? Saya tidak pernah meminta hidup, tapi satu kali  saya hidup, apa yang harus saya buat?&#8221;</p>
<p>Filsafat  sebetulnya  mencari  suatu  citra  manusia, yaitu  suatu  visi tertentu atas hidup manusia,  yang  dapat dipertanggungjawabkan,  yang dapat berperan menjadi  pedoman yang  bersifat  mengikat dan  mengarahkan  bagi  keseluruhan sikap  hidupnya.  Visi itu harus  menjuruskan  dan  menjiwai tingkah  lakunya. Jadi tujuan filsafat bukanlah  pengetahuan demi pengetahuan. Manusia membutuhkan suatu visi atas  hidup yang benar-benar berakar dan berbobot, supaya dengan  berpi­jak  pada  hal  tersebut ia tahu  bagaimana  membentuk  diri seperti semestinya, apa yang dapat diharapkannya untuk  masa yang  akan  datang, dan dimana ia harus  mencari  kebulatan, keutuhan,  dan kesempurnaan hidup sebagai manusia, dan  aki­batnya,  di mana ia akan dapat menemukan kebahagiaan  (kalau kebahagiaan  itu ada). Jadi berfilsafat mempunyai  orientasi praktis,  namun harus bertumpu pada citra manusia yang  ber­tanggungjawab  dan suatu pandangan atas manusia yang  berda­sar. Itulah yang harus dicita-citakan.</p>
<p>Konsekuensi lain adalah bahwa orang yang  berfilsafat harus  selektif dalam usahanya. Hendaknya ia  hanya  memilih pokok-pokok  yang aktual untuk dirinya pribadi dan  menjamin suatu  pengertian yang lebih baik akan dirinya,  atau  seku­rang-kurangnya memberi harapan untuk itu. Dengan kata  lain, semua pertanyaan yang tidak membuat dia sibuk dengan dirinya sendiri harus dikesampingkan. Maka berfilsafat berarti suatu kegiatan dimana orang bersibuk dengan dirinya sendiri  dalam pikiran dan pengetahuan.</p>
<p>Hal  berfilsafat adalah kegiatan dan  kesibukan  yang khusus  dan tersendiri. Berfilsafat adalah  sedemikian  rupa bersibuk dengan diri sendiri dalam pikiran, sehingga  segala kesibukan  lain dan apa yang terjalin dengan  diikutsertakan  ke dalamnya, kemudian diperdalam olehnya, dan  dipertimbang­kan nilainya. Hal ini tidak boleh disimpulkan bahwa filsafat itu mengurungkan manusia ke dalam diri sendiri dan mencerai­kan dia dari hidup biasa. Justru kebalikannya yang  terjadi. Filsafat  berhasrat agar manusia makin mengenal diri  dengan lebih  baik sebagaimnana ia nyata adanya. Dengan  kata  lain segala  hal  yang menyangkut &#8220;aku&#8221; dengan  permasalahan  dan kemungkinannya harus dimasukkan dalam permenungannya.  Sean­dainya tidak begitu, pemikiran filsafat tidak akan mempunyai relevansi atau sedikit sajalah artinya.</p>
<p>Filsafat justru bermaksud agar &#8220;aku&#8221; mengenal kembali dirinya  dalam semuanya yang diajarkan mengenai hidup  manu­sia.  Olehnya  hidup  itu hendak  ditingkatkan  sampai  pada tatanan  yang lebih manusiawi dan asli. Makanya  boleh  kita mengatakan bahwa filsafat hendaknya menjadi bentuk  pengena­lan  diri. Terutama sekali, di waktu sekarang  banyak  orang ditatar menjadi lebih pandai di bidang khusus mereka masing-masing, filsafat semakin dibutuhkan, sebab olehnya diberikan suatu pemandangan yang merangkum seluruh diri manusia.</p>
<p>Romano  Guardini  (1885-1968)  seorang  filsuf-teolog  terkenal,  dalam  bukunya &#8220;Mein Ich und das  Gute&#8221;  menyebut sebagai bahaya sangkaan banyak orang bahwa, setelah  menjadi dewasa,  mereka tidak perlu dibimbing dan dibina lebih  lan­jut.  Hanya efesiensi mereka perlu ditingkatkan.  Untuk  itu diperlukan sejumlah pengetahuan baru ad hoc. Akibatnya ialah bahwa mereka mengalami suatu kemiskinan mental, yang membuat mereka  tidak  berdaya terhadap setiap pengaruh  dari  luar. Mereka tidak mampu membentuk sikap dan pendirian yang bersi­fat pribadi. Sekalipun mereka pandai di bidang  profesional, dan  penuh  kepastian, mereka berdiri  di  kancah  kehidupan dengan ragu-ragu dan tanpa arah (mungkin, korupsi dan oppor­tunisme yang melanda masyarakat kita dapat diasalkan  kepada tiadanya  pegangan yang sungguh-sungguh  dihayati).  Menurut Guardini,  manusia  harus  dihadapkan  dengan  diri  sendiri berulang-ulang.  Ia  sendiri harus mencari  dan  menyelidiki semua  kemungkinan  yang nampak terbuka bagi dia.  Ia  harus memeriksa  sendiri arti sebenarnya dari kebebasan dan  tang­gungjawabnya, sebab hanya demikianlah ia akan mampu  menemu­kan  jalan  yang  benar di suatu dunia  yang  serba  berubah dengan pesat, dan menyesuaikan diri secara  bertanggungjawab dengan suatu zaman teknologi, dimana efesiensi lebih  tinggi memang dituntut sebagai prasyarat.</p>
<p>Jadi,  kita  tak  boleh menilai  filsafat  dari  segi kegunaannya  yang  praktis. Kita  tidak  boleh  mengharapkan suatu  teknik atau keterampilan daripadanya. Filsafat  tidak bersifat &#8220;pragmatis&#8221; atau &#8220;utilitaristis&#8221;. Ia tidak  menjan­jikan  keuntungan  yang bersifat kebendaan. Ia  tidak  dapat membanggakan  penemuan-penemuan  di bidang  teknologi  untuk membuktikan  keunggulannya. Ia sama sekali berdiri  di  luar kategori &#8220;yang berguna&#8221;, dan karenanya memang tidak  menarik bagi  orang  yang berkejangkitan aspirasi  material  melulu. Nilainya  tidak dapat diukur secara kuantitatif -  &#8220;hasilnya berapa?&#8221;  &#8211; tetapi berkaitan dengan kualitas  hidup.  Itulah yang dipentingkan</p>
<p>Oleh karena filsafat mencari &#8220;yang paling dalam&#8221;  dan &#8220;yang paling dasar&#8221;, ia melampaui pengertian yang dihasilkan  ilmu  pengetahuan. Keuntungannya ialah bahwa ia lebih  dapat memperlihatkan saling hubungan antara segala-galanya.  Sebab pada inti realitas yang terdalam, semuanya bersentuhan  satu sama lain.</p>
<p>Kalau kita berfilsafat sendiri, atau membaca sumbangan pikiran orang lain, kita harus selalu melibatkan diri secara pribadi,  dan berminat dari dalam inti diri  kita.  Bukanlah &#8220;manusia&#8221;  pada  umumnya atau &#8220;manusia dalam  arti  abstrak&#8221; yang  kita  renungkan, tetapi &#8220;manusia ini&#8221; atau  &#8220;aku  ini&#8221; yang  konkret.  Maka semua yang dikatakan,  perlu  kita  uji dengan  berpedoman  pada  kadar kebenaran  yang  kita  alami sendiri. Kita harus menyambung pada pengalaman pribadi kita. Kita  harus mengolah kesemuanya secara pribadi, dan  seolah-olah menerjemahkan ke dalam bahasa kita sendiri. Kita  harus menerapkan  semua  pada situasi kita. Tidak ada  orang  yang lebih berwenang di bidang hidup pribadi kecuali aku sendiri.</p>
<p>EKSISTENSI MANUSIA DALAM AGAMA</p>
<p>Sekalipun  telah disebutkan bahwa  filsafat  berupaya mencari  &#8220;dasar yang paling dalam&#8221;, ia ternyata  tidak  akan pernah bertemu dengan &#8220;kata akhir&#8221;.</p>
<p>Orang berfilsafat yang telah mencapai batas kemampuan pikirannya dalam merenungkan hidup sebagai manusia  ternyata masih  meninggalkan sejumlah pertanyaan yang tak  terjangkau akalnya.</p>
<p>Jika  seseorang beragama, maka ia akan tahu dan  per­caya  bahwa  Allah  juga telah  berfirman  dan  menyampaikan paham-Nya  tentang  hidup manusia. Kebutaannya  membuat  dia bertanya kepada Allah. Ia hadapkan dirinya pada Tuhannya. Ia pertanyakan ketidaktahuannya. Di sini kita menemukan kemung­kinan  terakhir untuk meredakan ketegangan antara  tahu  dan tidak tahu.</p>
<p>Filsafat  dan Agama merupakan dua jalan  yang  saling berhubungan erat menuju pengenalan diri. Orang beragama yang berfilsafat  tentang diri sendiri dan bertatap  muka  dengan banyak soal yang tidak terjawab olehnya, akan menyerahkannya pada Teologi, atau meninjau dirinya kembali di bawah sorotan cahaya  Wahyu  Illahi.  Kalau filsafat  telah  mengubah  dia menjadi  &#8220;orang yang bertanya-tanya&#8221;,  sapaan  Tuhan  akan diberi arti lebih besar, yakni sebagai bantuan bagi  manusia yang bertanya. Kalau dia bukan &#8220;orang yang bertanya-tanya di hadapan  Allah, Tuhan dan sapaanya-Nya tidak  akan  dianggap kenyataan yang hidup.</p>
<p>Semakin seseorang di bawah pengaruh pemikiran  filsa­fatnya  mengenal diri sebagai manusia, semakin  dia  menjadi &#8220;orang  beriman&#8221;.  Di pihak lain,  kalau  seseorang  sungguh beriman dalam artikata religius, dan memikirkan serta  mere­nungkan hidupnya sebagai manusia, maka dengan sendirinya  ia akan memperhitungkan masukan agamanya, berupa pandangan atas hidup. Itu sesuatu yang logis. Sebab filsafat adalah  berna­larnya  manusia atas dirinya sebagaimana adanya. Jadi  kalau dia  beriman, ia tidak boleh melepaskan iman dalam  tinjauan dan permenungannya.  Orang beriman percaya bahwa justru yang difirmankan Allah dapat dan harus menjadi modal pikiran yang bernilai. Hidup beriman akan memberi suatu pengarahan kepada filsafatnya  dan  menghadapkan  dia  secara  lebih  intensif dengan masalah-masalah tertentu. Sebab, sebagai orang  beri­man ia merenungkan hidupnya sebagai manusia.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>AGUS  SACHARI, 1986, SENI, DESAIN, DAN  TEKNOLOGI,  Pustaka, Bandung.</p>
<p>LEENHOUWERS, P, 1988, MANUSIA DALAM LINGKUNGANNYA,  Refleksi Filsafat Tentang Manusia,  Gramedia, Jakarta,</p>
<p>MELSEN,  A.G.M.  van, 1985, ILMU  PENGETAHUAN  DAN  TANGGUNG JAWAB KITA, Gramedia, Jakarta.</p>
<p>PEURSEN,  C.A. van, 1990, FAKTA, NILAI, DAN PERISTIWA:  Ten­tang  Hubungan  Antara Ilmu  Pengetahuan  Dan  Etika, Gramedia, Jakarta.</p>
<p>Edi  Sedyawati  (editor), SENI DALAM  MASYARAKAT  INDONESIA; BUNGA RAMPAI, Gramedia, Jakarta</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=50&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/29/dimensi-eksistensi-manusia-dalam-seni-ilmu-filsafat-dan-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tahapan Periklanan berdasarkan Tahapan Daur Hidup Produk</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/25/tahapan-periklanan-berdasarkan-tahapan-daur-hidup-produk/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/25/tahapan-periklanan-berdasarkan-tahapan-daur-hidup-produk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 15:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/2008/03/25/tahapan-periklanan-berdasarkan-tahapan-daur-hidup-produk/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Teddy K Wirakusumah Produk-produk melalui sejumlah tahap yang dikenal dengan daur hidup produk (Product Life Cycle). Sebuah produk apakah masih berada pada Tahap Perkenalan, ataukah sudah memasuki Tahap Pertumbuhan, atau justru sudah berada pada Tahap Kedewasaan, atau justru berada pada Tahap Penurunan Kembali.Setiap tahapan dalam daur hidup produk membutuhkan kegiatan periklanan tersendiri Masing-masing tahapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=49&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Teddy K Wirakusumah</p>
<div class="post">
<div class="entry">
<div class="snap_preview">Produk-produk melalui sejumlah tahap yang dikenal dengan daur hidup produk (Product Life Cycle). Sebuah produk apakah masih berada pada Tahap Perkenalan, ataukah sudah memasuki Tahap Pertumbuhan, atau justru sudah berada pada Tahap Kedewasaan, atau justru berada pada Tahap Penurunan Kembali.Setiap tahapan dalam daur hidup produk membutuhkan kegiatan periklanan tersendiri Masing-masing tahapan dalam daur hidup produk menentukan tahapan periklanan yang memiliki karakteristik yang khas pula. Perhatikan tabel berikut:</div>
<div class="snap_preview"></div>
<div class="snap_preview"></div>
<div class="snap_preview"></div>
<div class="snap_preview"></div>
<div class="snap_preview"></div>
<div class="snap_preview"></div>
<div class="snap_preview"> </p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0">
<tr>
<td width="205" vAlign="top">
<h5>Tahapan Daur Hidup Produk</h5>
</td>
<td width="216" vAlign="top">
<h5>Tahapan Periklanan</h5>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="205" vAlign="top">Tahap Perkenalan</td>
<td width="216" vAlign="top">Tahap Perintisan</td>
</tr>
<tr>
<td width="205" vAlign="top">Tahap Pertumbuhan</td>
<td width="216" vAlign="top">Tahap Kompetitif</td>
</tr>
<tr>
<td width="205" vAlign="top">Tahap Kedewasaan</td>
<td width="216" vAlign="top">Tahap Retentif</td>
</tr>
<tr>
<td width="205" vAlign="top">Tahap Penurunan Kembali</td>
<td width="216" vAlign="top">Berhenti atau masuk ke Tahap Perintisan Baru</td>
</tr>
</table>
</div>
<p class="snap_preview"><strong></strong></p>
<p class="snap_preview"><strong>1. Tahap Perintisan</strong></p>
<p class="snap_preview">Tahap Perintisan adalah tahapan periklanan ketika sebuah produk baru diperkenalkan</p>
<p class="snap_preview">Sebuah produk baru, sekalipun sangat revolusioner tidak berarti bisa memaksa konsumen untuk menunjukkan minat.. Sepanjang orang belum menghargai kenyataan bahwa mereka membutuhkan produk tersebut, maka produk tersebut dalam daur hidup produk berada dalam Tahap Perkenalan</p>
<p class="snap_preview">Iklan pada tahapan ini harus memperkenalkan gagasan yang membuat konsepsi-konsepsi sebelumnya tampak kuno atau metoda lama yang hingga saat ini masih diterima sekarang telah dikembangkan.</p>
<p class="snap_preview">Iklan pada tahapan ini harus memberitahukan keuntungan-keuntungan baru untuk menciptakan permintaan. Iklan harus lebih sekedar menyajikan sebuah produk, tapi sekaligus harus mampu menanamkan kebiasaan baru, mengubah kebiasaan, mengembangkan pemakaian baru, atau bahkan mengusahakan standar hidup baru. Iklan harus menjual aspek umum dari produk dan mengajari tentang apa yang dilakukan produk. Selama sasaran belum memahami dengan jelas manfaat produk, periklanan harus menekankan kegunaan bukan keuntungan-keuntungan dibanding pesaing. Suatu usaha sia-sia mencoba memperoleh keuntungan kompetitif dari produk lain ketika minat belum terbentuk.Jika dianalogikan dengan kelahiran bayi, upaya seperti ini tak ubahnya seperti melahirkan bayi premature.</p>
<p class="snap_preview">Pada tahapan ini iklan biasanya mereferensi terhadap kemajuan waktu, seperti “Sekarang anda dapat melakukan ini”, Akhirnya anda dapat melakukan itu” sebagai langkah antisipasi terhadap pertanyaan “Untuk apa produk ini?”</p>
<p class="snap_preview">Tahap ini tidak selalu menguntungkan produsen, karena harus melakukan promosi besar-besaran, harus memperluas distribusi, menciptakan percobaan konsumen, dan meningkatkan pasar geografis..Banyak hal harus dilakukan dan banyak biaya yang harus dipertaruhkan. Sungguh! Sebenarnya banyak sekali produk yang tidak bisa bertahan. Mereka akhirnya menyerah sebelum sempat populer (Contoh: Taranasiku) Namun ketika memperoleh keberhasilan, satu atau lebih pesaing segera melompat ke dalam pasar. Para pengekor lazim turut bermain, ikut ambil bagian, berupaya mencicipi keuntungan. Beberapa diantara mereka bahkan tidak sungkan untuk latah berusaha menyerupai atribut para perintis dari mulai nama merk, bentuk dan warna kemasan, logotype, dsb ( perhatikan AQUA dengan AQUARIA, AQUADEST, atau OREO dengan RODEO, dll) . Keuntungan menjadi perintis pada umumnya menjadi pemimpin pasar. Dalam benak sasaran nama perintis yang pertamakali muncul. Bahkan demikian populernya para perintis, kenyataan menunjukkan, nama merk kerapkali menjadi pengganti nama produk. Contoh  Aqua untuk produk air mineral, Pampers untuk produk popok bayi, Softex untuk produk pembalut wanita, Sanyo untuk produk pompa air, dll</p>
<p class="snap_preview"><strong>2. Tahap Kompetitif</strong></p>
<p class="snap_preview">Tahap Kompetitif adalah tahap periklanan yang dicapai oleh sebuah produk ketika kegunaannya yang umum dikenali tetapi superioritasnya di atas merek-merek yang sama harus dibentuk agar memperoleh preferensi</p>
<p class="snap_preview">Produk yang diterima oleh umum akan menimbulkan persaingan dengan masuknya produk-produk pengekor. Konsumen sudah mulai tahu dan kenal apa produk dan bagaimana menggunakannya, tapi merek mana yang akan mereka beli?</p>
<p class="snap_preview">Perintis memiliki keuntungan kepemimpinan (advantage of leadership)</p>
<p class="snap_preview">Pada tahapan ini kegiatan periklanan bertujuan untuk mengkomunikasikan perbedaan produk kepada konsumen. Periklanan harus menampilkan keistimewaan produk yang membuatnya lebih baik dari yang lain. Pada tahapan ini periklanan tidak perlu lagi menguraikan kegunaan produk. Upaya menjelaskan kegunaan produk pada tahap kompetitif terkesan tidak percaya diri.</p>
<p class="snap_preview"><strong>3. Tahap Retentif</strong></p>
<p class="snap_preview">Tahap Retentif adalah tahap periklanan ketika kegunaan produk yang umum dikenal di mana-mana dan kualitasnya sepenuhnya dihargai. Tahap ini adalah tahapan dimana produk mencapai Kedewasaan dan memberikan keuntungan yang paling memuaskan. Tidak banyak produk yang bisa mencapai tahap ini. Oleh sebab itu iklan lebih diarahkan untuk berupaya menahan perlindungan terhadap kekuatan prestasi yang telah dicapai.</p>
<p class="snap_preview">Pengiklan yang telah memiliki produk dalam tahap ini seringkali keliru:</p>
<p class="snap_preview">“Setiap orang telah mengenal produk kami, mereka sudah beli, lalu buat apa kami beriklan?”</p>
<p class="snap_preview">Namun, sejarah menunjukkan merk yang sukses lalu tidak beriklan, dengan segera konsumen akan melupakan dan posisi kepemimpinan pasar akan segera digantikan oleh pesaing (Bayangkan jika Coca Cola berhenti beriklan apa yang terjadi dengan Pepsi Cola)</p>
<p class="snap_preview">Pengiklan yang cerdik akan menahan pelanggan dengan memelihara agar merk selalu mereka ingat. Iklan pada tahapan ini biasanya berupa Reminder Ad. yaitu  iklan yang sekadar mengingatkan konsumen akan keberadaan merk tersebut. Biasanya iklan hanya bersifat visual, hanya memuat nama/brand dengan illustrasi yang dominan. Atau bermain dengan warna brand yang khas. Kalaupun ada Copy umumnya memuat sedikit kata yang ditulis dengan huruf besar atau tanpa teks sama sekali karena tidak perlu lagi banyak omong. Ketika konsumen telah menerima, menghargai, dan menggunakan produk, periklanan kompetitif tidak perlu dilakukan karena tidak ada gunanya.</p>
<p class="snap_preview">Sasaran iklan pada tahap ini untuk mempertahankan pangsa pasar dan mencegah percobaan konsumen terhadap produk pesaing.</p>
<p class="snap_preview">Produk-produk dalam tahap kedewasaan berada pada tahap paling menguntungkan. Tingkat pembelian berada pada puncaknya, biaya periklanan dapat ditekan karena hanya pengingatan, saluran distribusi telah tercipta. Itu sebabnya perusahaan suka mempertahankan selama mungkin.</p>
<p class="snap_preview"><strong>4. Setelah Tahap Retentif</strong></p>
<p class="snap_preview">Kelangsungan produk tidak berhenti ketika mencapai tahap kedewasaan. Setelah produk berada pada puncak popularitasnya dan berada dalam tahap paling menguntungkan, seperti hukum alam, segala sesuatu yang baik selalu ada akhirnya. Produk dalam tahap Kedewasaan pun akan tiba waktunya pada tahap penurunan kembali</p>
<p class="snap_preview">Dua pilihan strategi akhir Tahap Kedewasaan</p>
<div class="snap_preview">
<ol>
<li>
<div>Menganggap bahwa produk telah hidup lebih lama dari kehidupan pasar efektifnya dan telah memberikan keuntungan melampaui harapan, sehingga sebaiknya dibiarkan mati. Produk tidak perlu ditarik, dibiarkan berangsur-angsur habis di pasar, tapi tetap memberikan keuntungan, karena biaya lainnya berkurang, (iklan berhenti, biaya pengiriman ke jalur distribusi dihentikan, dsb). Manajemen lebih diarahkan untuk menciptakan produk inovatif lainnya. Strategi ini lazim bagi produk-produk seperti mode busana, bahan pakaian, asesoris</div>
</li>
<li>
<div>Berupaya tetap mempertahankan. Beberapa produk memang dirasa sayang jika kemudian dibiarkan. Terlebih jika peluangnya memang masih sangat terbuka.. Agar tidak terkesan usang, strategi yang paling umum diambil adalah melakukan beberapa perubahan inovatif: menambahkan sesuatu yang baru, mengubah kemasan, mengganti tagline,dsb. (perhatikan: Toyota Corolla, Corolla DX hingga Corolla Altis, atau Suzuki Carry, Carry Extra hingga Carry Futura atau Rinso, Rinso Warna, Rinso Higienis, Rinso Anti Noda, dst) Intinya Produsen tidak menerima produk harus mengalami kemerosotan, kemudian mengembangkan atau memperluas seolah-olah menjadi produk yang baru kembali, sehingga dalam daur hidup produk masuk pada tahap perkenalan kembali.Jika strategi ini yang dipilih maka iklan pun kembali masuk pada tahap perintisan kembali. Untungnya, bagi produk-produk yang pernah sukses di masa lalu, tahapan rintisan “wajah baru” biasanya tak serepot rintisan yang pertama kali. Sekalipun begitu, tidak ada jaminan produk “wajah baru” mampu mengulang sukses yang pernah diraih sebelumnya</div>
</li>
</ol>
</div>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=49&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/25/tahapan-periklanan-berdasarkan-tahapan-daur-hidup-produk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Representasi Simbol Agama dan Keberagamaan di Layar Kaca</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/04/representasi-simbol-agama-dan-keberagamaan-di-layar-kaca/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/04/representasi-simbol-agama-dan-keberagamaan-di-layar-kaca/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 21:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[LATAR BELAKANG Perubahan budaya masyarakat lisan ke budaya baca-tulis, tak ditolak mendatangkan banyak guna. Pemikiran-pemikiran besar dan berbagai penemuan penting lahir pada era ini. Namun tatkala tele­visi hadir dan mengembangkan budaya pandang dengar, antara manfaat dan mudarat menjadi topik diskusi yang tidak ada habisnya. Era budaya pasca baca-tulis sebelum budaya televisi sebenar­nya sudah diawali dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=48&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>LATAR BELAKANG</b></p>
<p><b></b></p>
<p>Perubahan budaya masyarakat lisan ke budaya baca-tulis, tak ditolak mendatangkan banyak guna. Pemikiran-pemikiran besar dan berbagai penemuan penting lahir pada era ini. Namun tatkala tele­visi hadir dan mengembangkan budaya pandang dengar, antara manfaat dan mudarat menjadi topik diskusi yang tidak ada habisnya.</p>
<p>Era budaya pasca baca-tulis sebelum budaya televisi sebenar­nya sudah diawali dari penemuan fotografi yang berlanjut dengan penemuan &#8220;gambar bergerak&#8221; (film movie). Namun keduanya tidak pernah mendapat tempat se-&#8221;penting&#8221; televisi.</p>
<p>Televisi begitu dekat dengan keseharian kita. Menjadi bagian yang sulit terpisahkan dari hidup kita. Ia menjadi bagian dari anggota keluarga kita. Tempat kita berbagi. Sekaligus mengubah pemahaman kita tentang realitas dunia.</p>
<p>Mengudaranya  stasiun  tv swasta merupakan  topik  paling  hangat  dibicarakan  di  negeri ini. Hal ini dapat  dimengerti  mengingat riwayat  pertelevisian  di Indonesia selama 15  tahun  didominasi oleh siaran tunggal pemerintah.</p>
<p>Raksi masyarakat terbagi dalam 4 jenis:</p>
<ol>
<li>
<div>pembahasan mengenai potensi ekonomi</div>
</li>
<li>
<div>kekuatan untuk memegang kekuasaan mendefinisikan apa dan siapa yang penting untuk diketahui (berita), apa yang benar (pembentukan opini), apa yang dianggap baik dan buruk (pembentukan nilai-nilai). Singkatnya potensi televisi sebagai sebuah tirani baru.</div>
</li>
<li>
<div>berpusat pada muatan sosiologis pesan-pesan yang ditayangkan televisi; dampak negatif siaran pada pemirsa muda, bagaimana kekerasan mengasah keberingasan dan kebengalan anak-anak, dan bagaimana waktu belajar maupun proses sosialisasi mereka terimbas oleh jadual tayangan televisi</div>
</li>
<li>
<div>pembahasan dan penerapan gagasan mengenai potensi media penyebaran pengetahuan dan penanaman moral.</div>
</li>
</ol>
<p>Yang disebut terakhir kemudian melahirkan beragam gagasan penyusunan dan penyuguhan program siaran berbau mendidik dan bernafaskan keagamaan. Berangkat dari titik inilah pangkal masalah dimulai . Telah terjadi pemaksaan substansi pada media televisi yang sesungguhnya memiliki format dengan peruntukan yang berbeda Teknologi tidaklah  netral, tetapi dilengkapi dengan program transformasi  budaya yang tidak kita sadari.</p>
<p>Benarkah format media massa televisi yang cukup dominan dalam  masyarakat kita cukup tepat untuk dimuati substansi yang bernafaskan keagamaan? Kita akan mulai mempertanyakan bagaimana opini kita dibentuk oleh bukan saja substansi tapi juga oleh format suatu medium.</p>
<p><b></b></p>
<p><b>Format Media Televisi : Hiburan!</b></p>
<p><b></b></p>
<p>Plato 2300 thl berargumen yang berfokus pada format konversasi antara manusia: &#8220;cara yang harus kita pakai untuk mengadakan konversasi tersebut akan sangat menentukan gagasan macam apa yang dapat kita kemukakan dengan mudah&#8221;. Dan gagasan apa saja yang dapat dengan mudah dikemukakan serta merta menjadi substansi penting suatu peradaban.</p>
<p>Istilah &#8220;konversasi&#8221; dipakai secara metaforis, untuk tidak hanya menunjuk pada percakapan namun juga pada segala teknik dan teknologi yang memungkinkan umat manusia dari suatu perdaban tertentu untuk bertukar pesan. Dalam pengertian ini, semua kebudayaan adalah suatu konversasi atau yang lebih jelas lagi, suatu kumpulan dari banyak konversasi, diadakan dengan berbagai variasi cara simbolis. Fokus pembahasan adalah bagaimana bentuk diskursus publik mengatur, bahkan mendikte substansi semacam apa yang dapat dilayangkan melalui bentuk-bentuk tersebut.</p>
<p>Kita tak dapat menggunakan asap api untuk membicarakan filsafat. Bentuk konversasi menyeleksi substansinya.</p>
<p>Televisi memberikan konversasi dalam bentuk tayangan visual, bukan ucapannya. Munculnya para manajer citra dalam arena politik serta menurunya para penulis pidato merupakan bukti yang mendukung fakta bahwa televisi menuntut jenis substansi yang berbeda dengan media lainnya. Kita tak dapat membicarakan filsafat politik di televisi. Bentuk konversasinya tidak mendukung substansi semacam itu.</p>
<p>Informasi, substansi yang membentuk &#8220;berita hari ini&#8221; tidak &#8211; dan tidak dapat &#8211; terjadi di dunia yang tak menyediakan media untuk mengekspresikannya. Maksudnya, berita semacam kebakaran, perang, pembunuhan, maupun skandal cinta bukannya tidak pernah terjadi di berbagai belahan dunia, namun tanpa teknologi yang memungkinkan berita tersebut dipublikasikan, masyarakat tak dapat menjadikan itu sebagai bagian hidup keseharian mereka. Informasi semacam itu tak dapat menjadi bagian dari substansi suatu kebudayaan. Gagasan ini sepenuhnya diciptakan oleh media yang memungkinkan perpindahan informasi yang telah dilepas dari konteksnya melewati jarak yang luar biasa jauhnya dalam kecepatan yang menakjubkan.</p>
<p>Berita hari ini adalah suatu peristiwa media.  Kita menghadiri berbagai potongan peristiwa dari seluruh penjuru dunia karena kita mempunyai media yang formatnya cocok dengan konversasi terpotong-potong.</p>
<p>Kita tengah berada dalam masa mundurnya zaman tipografi dan munculnya zaman televisi. Perubahan ini telah menggeser substansi makna diskursus publik, karena kedua jenis media yang demikian berbeda tak dapat mengakomodasi gagasan yang sama. Sementara pengaruh media cetak memudar, substansi politik, agama, pendidikan, dan semua yang merupakan urusan khalayak ramai harus berganti serta dilafalkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan format televisi.</p>
<p>Hingga di sini dapat disimpulkan bahwa komunikasi media yang tersedia dalam suatu masyarakat akan merupakan suatu pengaruh yang dominan bagi aktivitas intelektual dan sosial masyarakat tersebut.</p>
<p>Percakapan, tentunya merupakan medium utama yang tak dapat dis­ingkirkan, karena membuat kita manusiawi, dan memberi makna pada kemanusiaan itu sendiri.</p>
<p>Kita semua cukup menguasai bahasa untuk dapat memahami bahwa variasi yang dapat disebut &#8220;pandangan atas  dunia&#8221;. Bagaimana suatu bangsa berpikir mengenai ruang dan waktu serta tentang hal dan proses tertentu, akan sangat dipengaruhi oleh tatabahasa dari bahasa yang mereka gunakan.</p>
<p>Karena kebudayaan yang terlahir dari percakapan senantiasa dilahirkan kembali melalui tiap medium komunikasi dari lukisan hingga hiroglif sampai alfabet ke televisi. Tiap medium seperti halnya bahasa, memungkinkan tercapainya suatu jenis diskurusus tertentu dengan memberikan orientasi baru dalam berpikir atau dalam mengekspresikan sesuatu, untuk mengasah kepekaan. Hal ini tentunya merupakan maksud Mc Luhan dalam merumuskan frasa  &#8220;the medium is the message&#8221;</p>
<p>Alfabet memperkenalkan suatu bentuk konversasi baru antar manusia. Hal ini sudah menjadi pengetahuan umum para akdemisi. Namun untuk mengetahui isi ucapan seseorang dan tidak hanya untuk dapat mendengarnya, bukanlah konsep yang remeh.</p>
<p>Penulisan fonetis telah menciptakan konsepsi baru mengenai pengetahuan, seperti halnya suatu kesadaran inteligensia baru.</p>
<p>Plato, menyadari sejak awal ketika teks tertulis sedang dikembangkan: &#8220;Tak ada orang yang terpelajar&#8221;  tulisnya dalam surat Ketujuh, &#8220;Yang mau mengekspresikan pandangan filsafatnya dalam bahasa, terutama bahasa yang tak dapat dirubah, seperti bahasa tertulis</p>
<p>Filsafat tak dapat diadakan tanpa kritisisme, dan penulisan memungkinkan suatu konsep diteliti secara mendalam. Penulisan membekukan pembicaraan dan memunculkan para ahli tata bahasa, ahli ilmu logika, ahli ilmu retorika, ahli sejarah, maupun ilmuwan &#8211; semua yang harus menguasai bahasa untuk dapat mengetahui maknanya letak kelemahannya, dan arah yang akan diambilnya</p>
<p>Tulisan akan membawa revolusi persepsi: pergeseran dari telinga ke mata sebagai organ pengolah bahasa.</p>
<p>Kata-kata yang tertulis sangat besar kekuasaannya, lebih dari sekedar mengingat:  tulisan menciptakan kembali masa lalu di masa kini, dan memberi kita bukan hanya hal-hal untuk diingat, tapi juga halusinasi intens yang terkumpul. Kita mungkin tidak melihat suatu yang mengagumkan dari tulisan, namun bagi bangsa yang oral murni tulisan sungguh sangat menakjubkan. Tulisan adalah konversasi, tidak dengan siapa-siapa, namun dengan semua orang. Pada masa kejayaan dunia cetak diskursus lebih koheren, serius dan rasional, dan di bawah kekuatan televisi, diskursus tersebut menjadi menciut dan absurd</p>
<p>Sering orang menentang produk &#8216;sampah&#8217; oleh televisi. Boleh jadi sebenarnya bagian terbaik dari televisi ini malah sampahnya. Kita tak dapat mengukur suatu budaya dengan output topik remeh temeh, melainkan dengan apa yang dianggap penting. Inilah masalah kita; televisi yang biasanya menayangkan hal-hal sepele, akan menjadi berbahaya bila muncul sebagai pembawa konversasi budaya yang penting. Ironisnya, hal inilah justru yang dituntut oleh para intelektual dan para kritisi televisi, karena, seperti dunia cetak televisi sebenarnya tak kurang dari filosofi retoris.</p>
<p>Televisi sebagai teknologi akan mempengaruhi cara berpikir kita,  serta sistem yang kita pakai dalam mencari kebenaran.</p>
<p>Kita hidup dalam perbenturan antara budaya lisan, budaya tulisan dan budaya medium elektronik, padahal perilaku dan gaya hidup yang dianut suatu peradaban tak dapat lepas dari bias medium massa yang dominan dalam peradaban tersebut.</p>
<p>Sifat menghibur medium televisi yang sering kita ingkari dengan menyebutnya sebagai media informasi dan pengetahuan, padahal justru format hiburanlah yang menjadi bentuk dasar tampilan siaran. Format hiburan ini begitu pervasif merasuki tiap sisi kehidupan kita, mempengaruhi diskursus publik kita; yang pada akhirnya membawa pendangkalan di berbagai sudut kehidupan kita.</p>
<p>Teknologi tidaklah  netral, tetapi dilengkapi dengan program transformasi  budaya yang tidak kita sadari. Opini kita dibentuk oleh bukan saja substansi tapi juga oleh format suatu medium.</p>
<p>Televisi menterjemahkan semua tema diskursus ke format menghibur, bahkan untuk  hal yang memerlukan pembahasan mendalam seperti diskursus politik, pengetahuan dan keagamaan.</p>
<p>Format acara televisi yang serba terfragmentasi mencerminkan sifat mediumnya, yang pada kahirnya akan mempengaruhi sifat para pemirsanya. Berbagai format berita, misalnya, yang  semula dipandang sebagai pembebasan masyarakat dari format resmi mungkin akan menjadi tiran yanglebih modern.</p>
<p>Ada kesadaran baru bahwa informasi yang sedemikian banyaknya itu selain membongkar banyak skandal juga membawa distorsi,dan pada akhirnya menghasilkan bukan saja misinformasi (informasi yang salah), melainkan disinformasi(informasi yang menyesatkan). Pembatasan terhadap kebebasan pers pernah jadi masalah, tetapi kebebasan yang tak terbatas menjadi lebih parah, sehingga sepotong berita di masa keterbukaan akan menjadi sekilas kerjapan yang kemudian tenggelam dalam ribuan berita lain yang mengalir tanpa henti di layar televisi. Ternyata kita tidak dapat memakai bahkan tak dapat berbuat sesuatupun atas semua berita yang kita saksikan.</p>
<p>Yang dianggap masalah di sini bukanlah televisi yang menjanjikan topik hiburan tetapi bahwa semua topik disjikan secara menghibur, sehingga terjadi pemaksaan format hiburan ini terhadap semua jenis diskursus publik bahkan yang memerlukan perenungan seperti politik, pendidikan dan keagamaan.</p>
<p>Orwell memperihatinkan pelarangan buku. Huxley memprihatinkan lenyapnya alasan  untuk melarang buku, karena minat baca telah punah. Orwell mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi, sementara Huxley mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan begitu banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois. Orwell mengkhawatirkan disembunyikannya kebenaran dari kita, Huxley mengkhawatirkan hilangnya kebenaran di dalam lautan informasi yang tidak relevan. Orwell mencemaskan datangnya masa dimana kita menjadi masyarakat yang terbelenggu. Huxley mencemaskan kemungkinan kita menjadi masyarakat yang remeh temeh. Orwell cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci. Huxley sebaliknya cemas akan  kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai (Postman 1997: 28)</p>
<p><b>Representasi vs Refleksi Keagamaan di televisi  </b></p>
<p>Salah satu fungsi televisi memang untuk menghibur, namun ketika meminjam spirit keagamaan, maka televisi mengalami disfungsi yang lain. Televisi terjebak untuk tidak menjalankan peran merefleksikan realitas, melainkan merepresentasikan realitas. Meski televisi bukan satu-satunya media massa yang bermain-main dalam ranah representasi realitas, namun televisilah yang paling kasat mata menunjukkan kemampuannya merepresentasikan realitas itu.</p>
<p>Permainan yang berlangsung antara kutub merefleksikan dan kutub merepresentasikan realitas itu, dengan mudah bisa dilihat dalam berbagai tayangan televisi. Sebut saja ketika memasuki bulan ramadhan, berbagai program yang berlabelkan &#8220;spirit ramadhan&#8221; digelar.Ritual tahunan umat Islam itu tidak direfleksikan stasiun-stasiun televisi kita, melainkan direpresentasikan dengan simbol simbol kasat mata yang menunjukkan citra keislaman. Karena hanya merepresentasikan realitas, maka media merasa tidak berkewajiban untuk menunjukkan bahwa beragama bukan cuma tampilan fisik atau meng-konsumsi simbol-simbol yang dekat dengan citra religius. Beragama tidak perlu kesatuan antara kata dan perbuatan. Beragama tidak menuntut bahwa iman itu harus diwujudkan dalam kenyataan. Malah televisi<sup> </sup>&#8220;mendakwahkan&#8221; apa yang mesti ditampilkan di atas layar gelas bisa, boleh, atau bahkan harus berbeda dengan apa yang ditampilkan di pentas sosial. Dalam berbagai program ramadhan para artis mengenakan busana yang menutup aurat-nya, namun bisa tampil sama sekali lain dalam kesempatan yang berbeda.</p>
<p>Bagi televisi, simbol-simbol keagamaan saja sudah cukup untuk menunjukkan suasana keberagamaan. Karena memang merepresentasikan simbol agama jauh lebih mudah dan memberi manfaat secara komersial bagi media dibandingkan dengan merefleksikan keberagamaan.</p>
<p>Karena itu, media massa pun menjadi tidak merasa &#8220;bersalah&#8221; bila merepresentasikan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Con-toh paling gampang adalah soal bergunjing (ghibah). Islam mengajarkan, ghibah merupakan tindakan yang sangat tidak terpuji dan harus dihindari. Namun stasiun-stasiun televisi menjual tayangan infotainment yang nota-bene penuh dengan ghibah, pun di saat bulan ramadan, dengan dalih merupakan tayangan yang disukai pemirsa dan tentu saja menarik banyak iklan.</p>
<p>Demikian juga halnya tayangan yang dinamakan reality show yang di negara seliberal Amerika Serikat pun dipertanyakan dari sisi etisnya, di sini menjamur luar biasa. Semua stasiun televisi berlomba menayangkan tayangan reality show itu termasuk reality show soal alam gaib dan mempermainkan rakyat kecil. Penderitaan menjadi sumber hiburan, kekonyolan dianggap sebagai sesuatu yang wajar, dan menjadi bahan tertawaan adalah sesuatu yang menyenangkan</p>
<p>Kaum muslimin Indonesia selama selama ini &#8211; hidup menonton televisi dengan isi yang kurang lebih seperti itu. Ajaran agama berjalan secara terpisah dengan ajaran media massa. Agama dan keberagamaan dipandang menjadi dua hal yang berbeda dalam media. Keberagamaan dipandang tidak perlu direpresentasikan, sedangkan agama setidaknya melalui simbol-simbolnya direpresentasikan habis-habisan untuk menunjukkan &#8220;religiusitas&#8221; media.</p>
<p>Televisi yang bekerja dengan logika kapitalistik memang melahirkan banyak paradoks bahkan absurditas. Televisi hanya menawarkan kesalehan manakala kesalehan itu memberi manfaat ekonomis baginya. Agama meng-ajarkan kebenaran, namun media sendiri memiliki &#8220;kebenarannya&#8221;, yang acuannya lagi-lagi manfaat ekonomis. Maka munculah fenomena seperti tayangan televisi yang menampilkan seorang ulama yang mengajarkan perlunya mengesakan Tuhan sesuai dengan prinsip tauhid, namun di waktu lain mengajarkan kemusyrikan dan bahkan televisi sendiri bekerja dengan memuja berhala seperti peringkat rating. Atau dalam kesempatan lain seorang dai ditampilkan untuk mengajak pemirsa menjaga syahwat, namun dalam banyak program pameran kecabulan dipertontonkan, termasuk selama bulan ramadan.</p>
<p>Bila pada masa awal masih sering terdengar bentuk-bentuk &#8220;perlawanan&#8221; umat terhadap isi media massa yang dipandang tak sejalan dengan ajaran Islam, kini suara tersebut makin melemah. Namun ini bukan berarti apa yang ditampilkan media sudah bisa diterima. Melainkan bisa saja menunjukkan betapa sia-sianya melawan kekuatan hegemonik media. Perhatikan saja, bagaimana kontroversi soal goyang Inul antara Rhoma Irama dan lawan-lawannya. Lalu kemudian siapa menjadi &#8220;bintang&#8221;?</p>
<p>Media massa memang akan selalu membutuhkan bintang, dan media massa hidup dengan fenomena bintang itu. Bintang-bintang itu tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dilahirkan. Kontes-kontes sebagai proses pelahiran bintang diselenggarakan berbagai stasiun televisi. Bintang bintang ciptaan media itu, pada gilirannya akan dimanfaatkan oleh media untuk men-jaga &#8220;kebesaran media&#8221; tersebut sekaligus menjaga relasi dominatif antara media dengan khalayaknya. Bahkan bila perlu media menciptakan bintang rohaniawan atau agamawan untuk menopang keberlanjutan industri hiburan yang bernuansakan agama, setidaknya secara simbolik. Ulama diposisikan sebagai bintang, bukan sebagai warotsatul anbiyaa (pewaris para nabi).</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan?</p>
<p>Tatkala tingkat literasi media masyarakat Indonesia masih belum begitu baik, maka representasi media televisi  pun akan cenderung dipandang se-bagai kebenaran. Tak ada lagi tersedia ruang untuk kritis membaca teks-teks representasi yang disampaikan media massa. Proses komunikasi yang dominatif makin menyuburkan peluang untuk memandang benar apa pun yang ditampilkan media. Bahkan khalayak pun cenderung berpandangan televisi sudah melakukan seleksi atas siapa yang akan ditampilkan. Mereka lupa bahwa seleksi yang dilakukan bukan seleksi yang kriterianya jelas, melainkan semata dengan menggunakan kriteria kepentingan ekonomi dan politik media massa.</p>
<p>Penyadaran atas apa yang dilakukan dalam operasi media massa televisi merupakan keharusan yang tak bisa ditawar lagi. Bentuknya berupa kegiatan pendidikan literasi media secara konkret. Kegiatan penyadaran melalui praktik aksi-refleksi seperti yang dikemukakan di atas, merupakan salah satu rumusan dasar untuk melahirkan daya kritis khalayak media. Daya kritis tersebut akan diperlukan untuk membangkitkan keberdayaan khalayak untuk tidak terjebak dalam permainan representasi televisi.</p>
<p>Khalayak yang berdaya itu pada gilirannya akan mampu mengubah atau memperbaiki praktik representasi yang dilakukan televisi. Katakanlah, Islam itu bukan sekadar mengganti lagu pop dengan nasyid, menggunakan jilbab dan baju gamis, mengenakan baju koko dan berpeci. Islam juga bukan sekadar menabung di bank syariah dan mengasuransikan diri di asuransi takaful. Karena hal itu hanyalah bagian kecil saja dari keberagamaan. Islam sungguh-sungguh merupakan ajaran yang mendorong pemeluknya untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya dan lingkungannya sesuai dengan semangat rahmatan lil &#8216;alamin.</p>
<p>Televisi sangat jarang menyajikan multidimensionalitas Islam. Bahkan dalam ruang dan waktu yang sempit yang disediakan televisi, seluruh aspek Islam tidak tampil sepenuhnya. Bahkan bila dipersentasekan, antara penguatan dan penggerogotan iman, masih lebih besar proses penggerogotan iman yang dilakukan media massa. Literasi media diperlukan agar dimensi-dimensi keagamaan bisa tampil secara lebih baik.</p>
<p>Literasi media bisa mendorong televisi untuk bekerja berdasarkan ke-rangka kerja khalayaknya, bukan kerangka kerja media yang kerap memper-dayakan, bukan memberdayakan, khalayaknya. Tanpa literasi media, bahkan bisa saja kebenaran yang ditawarkan televisi itu bisa mengubah kebe-naran yang ditawarkan agama sendiri dengan cara yang demikian subtil, sehingga banyak orang tidak merasakan adanya perubahan.</p>
<p>Pengembangan daya kritis sendiri bukan hal yang sulit. Bila setiap orang tidak menerima begitu saja apa yang direpresentasikan televisi, misalnya dengan menyadari bahwa televisi itu bukan merefleksikan, melainkan merepresentasikan realitas, maka benih-benih menjadi khalayak media televisi yang kritis sudah mulai disemai. Apalagi bila kemudian dilanjutkan dengan mempertanyakan atas kepentingan apa dan siapa televisi merepresentasikan hal tersebut. Lalu dilanjutkan dengan bertanya apa yang sebaiknya dilakukan.</p>
<p>Literasi media akan membukakan mata khalayak televisi tidaklah menyampaikan segala sesuatu apa adanya, melainkan hasil olahan dengan berpijak pada kaidah-kaidah yang berlaku dalam dunia media massa. Televisi melakukan mediasi atas realitas, sehingga realitas bukan saja lebih menarik tapi juga lebih indah atau lebih dramatis dari realitas yang sesungguhnya. Itulah representasi yang dilakukan televisi, yang prosesnya sangat banyak dipengaruhi kepentingan kekuasaan politik atau ekonomi.</p>
<p><b>Kesimpulan dan Arahan </b></p>
<p>Teknologi tidaklah  netral, tetapi dilengkapi dengan program transformasi  budaya yang tidak kita sadari. Opini kita dibentuk oleh bukan saja substansi tapi juga oleh format suatu medium. Televisi menterjemahkan semua tema diskursus ke format menghibur, bahkan untuk  hal yang memerlukan pembahasan mendalam seperti diskursus politik, pengetahuan dan keagamaan.</p>
<p>Bagi televisi, simbol-simbol keagamaan saja sudah cukup untuk menunjukkan suasana keberagamaan. Karena memang merepresentasikan simbol agama jauh lebih mudah dan memberi manfaat secara komersial bagi media dibandingkan dengan merefleksikan keberagamaan. Keberagamaan dipandang tidak perlu direpresentasikan, sedangkan simbol-simbol agama direpresentasikan habis-habisan untuk menunjukkan &#8220;religiusitas&#8221; media.</p>
<p>Televisi yang bekerja dengan logika kapitalistik memang melahirkan banyak paradoks bahkan absurditas. Televisi hanya menawarkan kesalehan manakala kesalehan itu memberi manfaat ekonomis baginya.</p>
<p>Televisi juga bekerja dengan fenomena bintang. Bintang bintang pada gilirannya akan dimanfaatkan oleh media untuk men-jaga &#8220;kebesaran media&#8221; tersebut sekaligus menjaga relasi dominatif antara media dengan khalayaknya. Bahkan bila perlu media menciptakan bintang rohaniawan atau agamawan untuk menopang keberlanjutan industri hiburan yang bernuansakan agama, setidaknya secara simbolik.</p>
<p>Menempatkan televisi sebagai media pendidikan dan peningkatan kualitas moral dalam bentuk siaran keagamaan sebaiknya dipandang hanya sebagai niatan agung namun tidak pada tempatnya</p>
<p>Literasi media diperlukan agar dimensi-dimensi keagamaan bisa tampil secara lebih baik. Literasi media bisa mendorong televisi untuk bekerja berdasarkan kerangka kerja khalayaknya, bukan kerangka kerja media yang kerap memperdayakan, bukan memberdayakan, khalayaknya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=48&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/03/04/representasi-simbol-agama-dan-keberagamaan-di-layar-kaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Desain Komunikasi Visual untuk Social Marketing</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 19:25:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh Teddy K Wirakusumah Komunikasi Visual Komunikasi visual adalah suatu proses penyampaian pesan dimana lambang-lambang yang dikirimkan komunikator hanya ditangkap oleh komunikan semata-mata hanya melalui indra penglihatan. Bentuk komunikasi seperti ini bisa bersifat langsung (sebagaimana dua orang tuna rungu saling bercengkrama menggunakan bahasa isyarat), namun sebagian besar menggunakan media perantara yang lazim disebut media komunikasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=46&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Oleh Teddy K Wirakusumah</p>
<p><b>Komunikasi Visual</b></p>
<p><b></b></p>
<p>Komunikasi visual adalah suatu proses penyampaian pesan dimana lambang-lambang yang dikirimkan komunikator hanya ditangkap oleh komunikan semata-mata hanya melalui indra penglihatan. Bentuk komunikasi seperti ini bisa bersifat langsung (sebagaimana dua orang tuna rungu saling bercengkrama menggunakan bahasa isyarat), namun sebagian besar menggunakan media perantara yang lazim disebut media komunikasi visual.</p>
<p>Selain digunakan untuk berbagai keperluan, media komunikasi visual kerap dimanfaatkan sebagai media promosi (komunikasi pemasaran) baik oleh lembaga bisnis maupun lembaga sosial</p>
<p><b>Bentuk- Bentuk Media Komunikasi Visual </b><b>Untuk Promosi Produk Layanan Sosial</b></p>
<p>Bentuk media komunikasi visual yang ada sekarang ini sudah tak terbilang jumlahnya. Para kreator senantiasa menyuguhkan bentu-bentuk baru dari waktu ke waktu. Di antara sekian banyak media yang ada beberapa media berikut merupakan media-media yang sangat populer digunakan dalam pemasaran social, dan beberapa diantaranya mungkin memiliki kepatutan untuk dijadikan alternatif.</p>
<p><b>1. Media Sebar </b></p>
<p>BROCHURE (leaflet, folder, booklet, flyers, catalog, pamphlet)</p>
<p>BOOK</p>
<p>BULLETIN</p>
<p>NEWSLETTER</p>
<p>NEWSPAPER</p>
<p>MAGAZINE</p>
<p>SOUVENIR: gift, plaque, plaquette</p>
<p>CARD</p>
<p><b>2. Media Lekat/Tempel/Gantung</b></p>
<p>PLACARD</p>
<p>POSTER</p>
<p>STICKER</p>
<p>WALL MAGAZINE</p>
<p>WALL NEWSPAPER</p>
<p>CALENDAR</p>
<p><b>3. Media Bentang</b></p>
<p>HORIZONTAL BANNER (spanduk, flying banner)</p>
<p>VERTICAL BANNER (baligoo, hanging banner, umbul-umbul)</p>
<p><b>4. Media Pancang </b></p>
<p>SIGNBOARD</p>
<p>BILLBOARD (pancang tunggal, tiang berputar, megatron, bigscreen)</p>
<p>BALOON PROMO</p>
<p><b>5. Media Transit</b></p>
<p>BUS PANEL</p>
<p>VEHICLE PANEL</p>
<p><b>6. Media Pakai</b></p>
<p>T-SHIRT</p>
<p>TOPI</p>
<p>BANDANA</p>
<p>TAS</p>
<p><b>7. Media Display</b></p>
<p>EXIBIHITION PANEL</p>
<p>MOVING PANEL</p>
<p><b>8. Media Permainan</b></p>
<p>CARD (KARTU PERMAINAN)</p>
<p>LAYANG-LAYANG</p>
<p>ULAR TANGGA</p>
<p><b></b></p>
<p><b></b></p>
<p><b>Unsur-Unsur Visual </b></p>
<p>Perbedaan dari segi jenis maupun dari segi bentuk tentunya mengandung karakteristik yang khas satu dengan lainnya. namun kesemuanya memiliki  unsur-unsur visual yang sama, yaitu: huruf, gambar, garis, bentuk, warna, dan bahan. Apapun jenis dan bagaimanapun bentuknya, pengenalan tentang unsur-unsur dasar tersebut akan sangat bermanfaat untuk menyajikan media yang optimal</p>
<p><b>Huruf.</b></p>
<p>Huruf adalah bagian terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam pemilihan huruf.</p>
<p>Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan Huruf</p>
<p>1. Legibility (Keterbacaan)</p>
<p>Legibility memiliki pengertian sebagai kualitas huruf pada naskah dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tingkat keterbacaan ini sangat tergantung pada tampilan bentuk fisik huruf (jenis/font), ukuran, panjang baris, spasi antar huruf, antar kata, antar baris, antar paragraf, dan penataan baris</p>
<ul>
<li>Font
<ul>
<li>Serif atau Sanserif</li>
</ul>
</li>
<li>Size
<ul>
<li>Bodytext antara 9 pt &#8211; 14 pt</li>
<li>Headline &gt; 14 pt</li>
</ul>
</li>
<li> Length of the line
<ul>
<li>Minimum panjang baris satu susunan alphabet kecil, maksimum 2,5 susunan alphabet</li>
<li>Panjang baris dalam pica tidak lebih 3x ukuran huruf dalam point. Untuk huruf 10 pt panjang baris tidak lebih dari 30 pica</li>
<li>Panjang baris rata-rata minimum 5 kata, maksimum 12 kata</li>
</ul>
</li>
<li>Spacing between the type, word, line, paragraph
<ul>
<li>Spasi antar huruf, kata, baris dan paragraph tidak boleh terlampau lebar</li>
</ul>
</li>
<li>Alignment
<ul>
<li>Penataan baris rata kiri
<ul>
<li>Memiliki tingkat keterbacaan yang baik</li>
<li>Dianjurkan untuk naskah yang panjang</li>
<li>Terkesan dinamis tapi kurang rapih</li>
</ul>
</li>
<li>Penataan baris rata kanan
<ul>
<li>Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk</li>
<li>Tidak dianjurkan untuk naskah panjang</li>
<li>Terkesan dinamis</li>
</ul>
</li>
<li>Penataan baris rata kiri kanan
<ul>
<li>Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik</li>
<li>Terkesan rapi tapi kurang dinamis</li>
<li>Dengan control yang baik, dianjurkan untuk naskah panjang</li>
</ul>
</li>
<li>Penataan baris terpusat di tengah
<ul>
<li>Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk</li>
<li>Tidak dianjurkan untuk naskah panjang</li>
<li>Terkesan statis</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>2. Approriatness (Kesesuaian)</p>
<p>Approriatness adalah kesesuaian antara tampilan bentuk huruf dengan isi pesan yang akan disampaikan. Yang perlu diingat bahwa selain berperan sebagi alat pembawa pesan, huruf sendiri mampu memuat pesan</p>
<p>3. Emphasis (Penekanan)</p>
<p>Setiap naskah terdiri dari beberapa bagian, misalnya Headline, Subheadline dan Body text. Pada body text terdapat judul item, paragraph, dst. Di dalam paragraf selalu ada bagian-bagian tertentu yang perlu mendapatkan perhatian lebih, misalnya istilah khusus, istilah asing, dsb. Bagian-bagian yang berbeda dan tertentu perlu mendapat-kan penonjolan agar perbedaan yang dimaksud dan hal yang patut diperhatikan tersebut dapat ditangkap oleh pembaca. Penonjolan tersebut dapat dilakukan dengan pilihan jenis/font, ukuran, ketebalan, kelebaran, kemiringan yang berbeda.</p>
<p>4. Harmony (Keselarasan)</p>
<p>Walaupun bebeberapa bagian perlu mendapatkan penonjolan dengan melakukan berbagai variasi, pemilihan huruf harus tetap selaras/harmonis. Oleh sebab itu penggunaan jenis/font yang terlalu beragam dalam suatu naskah tidak dianjurkan, tetapi pilihan variasi dalam satu family huruf dapat digunakan.</p>
<p><b>Gambar</b></p>
<p><b></b></p>
<p>Kerap diibaratkan gambar dapat berbicara lebih dari sejuta kata. Ibarat tersebut mungkin agak berlebihan, Namun, penggunaan gambar perlu dipertimbangkan karena dapat menjalankan peran sebagai berikut</p>
<ul>
<li>menjelaskan hal-hal yang sulit dijelaskan lewat-kata-kata</li>
<li>menolong menjelaskan sesuatu yang muskil</li>
<li>meringkaskan pengertian</li>
<li>memberikan uniformitas/kesamaan dalam pengamatan</li>
<li>menarik dan mengarahkan perhatian</li>
<li>membantu mengekalkan ingatan</li>
<li>membangkitkan kesenangan</li>
<li>memberikan kesempatan mata beristirahat</li>
<li>mengisi ruang</li>
<li>meningkatkan tampilan artistic</li>
</ul>
<p><b></b></p>
<p><b>Garis dan Bentuk</b></p>
<p>Garis dan bentuk merupakan unsur visual yang tak kalah penting. Perannya dalam media adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>pemisah antar bagian</li>
<li>pengarah perhatian</li>
<li>manipulasi ruang</li>
<li>mendukung tampilan artistic</li>
</ul>
<p><b></b></p>
<p><b>Warna</b></p>
<p><b></b></p>
<p>Warna merupakan unsur visual yang penting lainnya dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna dapat berperan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>memberikan kesan realistis</li>
<li>membangkitkan perhatian</li>
<li>memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan</li>
<li>meningkatkan tampilan artistik</li>
</ul>
<p><b></b></p>
<p><b>Ruang Putih/Kosong</b></p>
<p>Satu unsure rancangan yang sering dilupakan adalah ruang putih atau ruang kosong. Ruang putih dapat menjadi sarana rancangan yang kuat dalam membantu menyatukan unsure-unsur secara keseluruhan atau menekankan unsure-unsur tertentu</p>
<p><b>Bahan</b></p>
<p>Bahan merupakan wadah dimana semua unsure-unsur visual diterakan, namun sekaligus merupakan unsure visual yang cukup menentukan untuk berperan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>memberikan citra</li>
<li>menguatkan pesan</li>
<li>menentukan mutu tampilan</li>
</ul>
<p><b></b></p>
<p><b>Prinsip-Prinsip Dasar Desain</b></p>
<p>Setiap unsur-unsur visual harus dikenali secara cermat sehingga dapat berperan optimal saat satu sama lain dipadukan/dirancang. Tidak ada metode perancangan desain yang paling shahih. Setiap perancang dapat mengembangkan metodenya masing-masing sesuai dengan pola kebiasaan, alat yang digunakan, lingkungan tempat kerja, dsb.  Sekalipun begitu terdapat beberapa prinsip perancangan yang dapat dijadikan pedoman untuk menghasilkan mutu perancangan yang berhasil guna.</p>
<p><b>1. Unity (Kesatuan)</b></p>
<p>Sebuah media penerbitan terdiri dari elemen-elemen seperti  headline, body text, illustrasi, warna, garis, dll. Semua elemen ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan keseluruhan efek yang menyatu dan terpadu</p>
<p><b>2. Variety (Keragaman)</b></p>
<p>Meskipun demikian, dalam sebuah rancangan media penerbitan, keragaman atau variasi sangat dibutuhkan untuk menghindari kesan monoton</p>
<p><b>3. Contrast (Kontras)</b></p>
<p>Contrast adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur (atau kelompok unsur) melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran, kontras bentuk.  Putuskan unsur mana yang akan ditonjolkan. Bila anda memberi seluruh unsur penonjolan yang sama, media anda akan berakhir tanpa penonjolan sama sekali</p>
<p><b></b></p>
<p><b>4. Harmony (Keselarasan)</b></p>
<p>Seluruh unsur tata letak harus saling bekerjasama dan tidak saling bertentangan satu sama lain. Bentuk, huruf, nada dan tekstur harus ditaata secara harmonis sehingga secara keseluruhan enak dipandang</p>
<p><b>5. Proportion</b> <b>(Kesepadanan/Sebanding)</b></p>
<p>Semua unsur harus sepadan. Tinggi dan lebar huruf, point huruf dengan lebar naskah, gambar dengan naskah</p>
<p><b>6. Rhythm (Irama)</b></p>
<p>Media cetak adalah media statis, namun  mata pembaca sesungguhnya dapat dibimbing dan diarahkan sehingga mencapai seluruh bagian rancangan.</p>
<p>Setiap unsur disusun agar dapat membantu mata bergerak dalam suatu gerakan yang terstruktur. Tempatkan unsur-unsur secara terencana sehingga mata mulai bergerak dari tempat yang anda inginkan hingga ke seluruh bagian.</p>
<p>Gerakan mata sebaiknya diarahkan agar mengalir dengan irama yang nyaman.</p>
<p>Pola Z dan S adalah susunan yang umum dipergunakan</p>
<p><b>7. Balance (Keseimbangan)</b></p>
<p>Dengan keseimbangan kita mengendalikan ukuran nada, berat dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman oleh mata, Cara menguji keseimbangan dengan cara menguji hubungan bagian kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal dan informal.</p>
<p>Keseimbangan formal.</p>
<p>Rancangan yang seimbang formal mempunyai unsure-unsur berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis vertical imajiner yang di gambarkan di pusat rancangan. Rancangan yang simetris memberikan kesan stabilitas dan konservatisme, tetapi pada suatu saat terlihat tidak imajinatif</p>
<p>Keseimbangan informal</p>
<p>Dalam keseimbangan informal obyek ditempatkan secara acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan ini memerlukan pemikiran ketimbang keseimbangan formal bisimetris sederhana, tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=46&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Promosi Lewat Tulisan di Media Massa</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/promosi-lewat-tulisan-di-media-massa/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/promosi-lewat-tulisan-di-media-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 19:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/promosi-lewat-tulisan-di-media-massa/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddy K Wirakusumah Pengantar Suratkabar dan  majalah adalah beberapa dari media massa yang kita kenal. Memaparkan beragam peristiwa dalam bentuk berita yang ditulis para pewarta adalah bisnis yang mereka jual. Tapi isi suratkabar dan majalah tidak semata-mata tulisan berupa berita. Masih banyak jenis tulisan lain tersedia. Dan tidak semuanya karya pewarta. Artikel, Feature, Press [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=45&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddy K Wirakusumah<b></b></p>
<p><b>Pengantar</b></p>
<p>Suratkabar dan  majalah adalah beberapa dari media massa yang kita kenal. Memaparkan beragam peristiwa dalam bentuk berita yang ditulis para pewarta adalah bisnis yang mereka jual.</p>
<p>Tapi isi suratkabar dan majalah tidak semata-mata tulisan berupa berita. Masih banyak jenis tulisan lain tersedia. Dan tidak semuanya karya pewarta. Artikel, Feature, Press Release, dan Surat Pembaca adalah diantaranya. Siapapun bisa serta. Termasuk Anda. Untuk apa?</p>
<p>Di tingkat operasional, pada hakekatnya advokasi bisa diartikan perang informasi. Anda perlu memberi informasi yang tepat kepada public supaya mereka memberikan dukungan nyata. Dalam upaya advokasi kita sering lupa pentingnya pendapat public. Bagaimana media massa memiliki kemampuan menggalang pendapat public rasanya tidak perlu diragukan lagi. Oleh sebab itu jika media massa dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pesan tentang beragam produk layanan Anda, kenapa tidak?</p>
<p><b>ARTIKEL</b></p>
<p>Menulis artikel pada hakikatnya merupakan salah satu cara mengungkapkan pendapat atau gagasan (ide) tentang suatu hal  dalam bentuk tulisan. Secara definitive, artikel diartikan sebagai sebuah karangan factual (nonfiksi) tentang suatu masalah secara lengkap, untuk dimuat di suratkabar, majalah, tabloid, bulletin, jurnal, dsb dengan tujuan memberi informasi, mengubah sikap dan perilaku.</p>
<p>Artikel termasuk tulisan kategori views, yakni suatu tulisan yang berisi pandangan, ide, opini, penilaian penulisnya tentang suatu masalah atau peristiwa. Pada umumnya, media mengundang berbagai pihak &#8211; siapapun &#8211; untuk mengirimkan tulisan dalam kategori ini. Sedangkan untuk kategori news, pihak media  biasanya mengerahkan seluruh sumber dayanya agar dapat menghidangkan pada sidang pembaca; beragam berita terkini dan terpercaya.</p>
<p>Para penulis dari berbagai kalangan berebut mendapat ruang artikel yang terbuka disediakan oleh pihak media. Sebagian untuk untuk aktualisasi diri, sebagian yang lain memandangnya sebagai sarana mencari rejeki. Sebagai wahana advokasi? Sudah sejak lama ORNOP (Organisasi Non Pemerintah) memanfaatkan ruang ini.</p>
<p>Saat anda akan menulis artikel anda akan berurusan dengan 4 hal pokok berikut:</p>
<p>1. Isi Pesan ( apa yang akan dituliskan?)</p>
<p>2. Struktur Pesan (bagaimana pesan disusun dan diorganisasikan?)</p>
<p>3. Format Pesan ( bagaimana pesan dihidangkan?)</p>
<p>4. Sumber Pesan (siapa yang menyampaukan?}</p>
<p>ISI PESAN</p>
<p>Sebelum menulis, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang akan kita tuliskan. Erat kaitannya dengan apa yang ingin kita tuliskan, kita memerlukan pokok bahasan (topik). Bagi pemula, menemukan topik yang baik seringkali menjadi masalah tersendiri. Sepertinya dunia ini kehabisan bahan pembicaraan. Padahal beragam masalah hadir di sekeliling kita dan dapat dijadikan sumber inspirasi untuk mendapatkan beragam topik tanpa pernah ada habisnya.</p>
<p>Kriteria Topik yang Baik</p>
<p>Untuk mengetahui apakah suatu topik baik atau tidak anda perlu memperhatikan hal-hal berikut</p>
<p>1. Topik harus sesuai dengan  latar belakang pengetahuan anda:</p>
<p>    Topik yang baik adalah jika topik tersebut dapat memberikan kemungkinan bahwa Anda lebih tahu daripada pembaca, Anda lebih ahli dibandingkan pembaca. Oleh sebab itu jumlah dan kualitas pengetahuan Anda tentang sesuatu akan memberi warna dan kedalaman pembahasan.</p>
<p>2. Topik harus menarik minat anda</p>
<p>    Topik yang menarik tentu saja topik yang anda senangi atau yang amat menyentuh emosi anda. Minat terhadap topik yang akan dibahas akan memberi dorongan atau spirit untuk membahasnya hingga tuntas.</p>
<p>3. Topik harus menarik minat pembaca</p>
<p>    Kita menulis untuk orang lain, karena itu tulislah sesuatu yang diminatinya. Walaupun benar minat orang sangat beragam, namun hal-hal berikut ini dapat menarik perhatian orang kebanyakan: hal-hal yang baru, luar biasa, unik, human interest, ptualangan, konflik, ketidakpastian, sesuatu yang berhubungan dengan keluarga, hal dramatis, persoalan yang dianggap pening, rahasia, humor, hal yang menunjukkan faedah nyata bagi pembaca.</p>
<p>4. Topik harus jelas ruang-lingkup dan pembatasannya</p>
<p>    Topik tidak boleh terlalu luas, sehingga setiap bagian hanya mendapat ulasan sekilas saja</p>
<p>5. Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi</p>
<p>    Agar peluang dimuat besar pilih topic yang disesuaikan dengan kejadian dan saat-saat tertentu yang menjadi pusat perhatian (seperti hari nasional, dsb)</p>
<p>6. Topik harus dapat ditunjang dengan bahan yang ada</p>
<p>    Anda akan dapat dengan mudah mengembangkan tulisan jika bahan-bahan tersedia</p>
<p>Merumuskan Judul</p>
<p>Erat kaitannya dengan topik adalah judul. Topik adalah pokok bahasan yang akan diulas, sedangkan judul adalah nama yang diberikan untuk pokok bahasan tersebut. Judul yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut:</p>
<p>1. Relevan artinya ada hubungan dengan pokok bahasan</p>
<p>2. Provokatif  artinya dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiasme pembaca</p>
<p>3. Singkat artinya mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya dan enteng untuk </p>
<p>    diingat</p>
<p>STRUKTUR PESAN</p>
<p>Tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami adalah jika tulisan tersebut tersusun secara sistematis dan tertib. Tulisan yang tersusun secara tertib akan menciptakan suasana yang menyenangkan, membangkitkan minat, tidak membingungkan, memperlihatkan pembagian pesan yang jelas sehingga memudahkan pengertian.</p>
<p>Struktur pesan dapat disusun berdasarkan muatan isi pesan itu sendiri atau dengan mengikuti kelaziman proses berpikir manusia. Yang pertama disebut organisasi pesan (message organization) dan yang kedua disebut pengaturan pesan (message arrangement).</p>
<p>Organisasi pesan</p>
<p>Mengorganisasikan pesan dapat melalui enam macam urutan (sequence) yaitu:</p>
<p>1. Deduktif</p>
<p>2. Induktif</p>
<p>3. Kronologis</p>
<p>4. Logis</p>
<p>5. Spasial</p>
<p>6. Topikal</p>
<p>Pengaturan Pesan</p>
<p>Terdapat berbagai model, salah satu diantaranya yang sangat popular dari Alan H Monroe dikenal dengan model ANSVA, yaitu:</p>
<ul>
<li>Attention (Rebut perhatian)</li>
<li>Needs (Bangkitkan kebutuhan)</li>
<li>Satisfaction (Berikan pemuas)</li>
<li>Visualization (Gambarkan keuntungan)</li>
<li>Action (Dorong kearah tindakkan)</li>
</ul>
<p>Teknik mengembangkan pokok bahasan</p>
<p>Bila topik sudah ditemukan. Pokok-pokok pikiran sudah disusun dan diorganisasikan, kita perlu mengembangkan pokok-pokok pikiran tersebut sehingga menjadi sebuah uraian yang lengkap. Teknik-teknik pengembangan bahasan dapat dikelompokkan menjadi enam macam:</p>
<p>1. Penjelasan</p>
<p>Penjelasan adalah uraian berupa keterangan untuk menunjang pengertian. Penjelasan dapat dilakukan dengan definisi atau visualisasi</p>
<p>Definisi adalah keterangan tentang suatu kata atau istilah.</p>
<p>- definisi etimologi (definition by etimology) definisi yang didasarkan pada kata asal</p>
<p>- definisi ahli (definition by authority) definisi dengan mengutip keterangaan dari</p>
<p>   seorang ahli</p>
<p>- definisi contoh (definition by exemplication)</p>
<p>- definisi uraian (defintion by explication)</p>
<p>- definisi penolakan (definition by negation)</p>
<p>Visualisasi adalah keterangan berupa gambar</p>
<p>Tidak semua hal dapat dijelaskan lewat uraian atau kata-kata. Hal-hal tertentu mungkin akan lebih jelas jika disajikan dalam bentuk gambar illustrasi, foto, model, chart, atau tabel</p>
<p>2. Contoh</p>
<p>Manusia sulit untuk memahami hal-hal yang abstrak. Contoh dapat mengkonkritkan gagasan, sehingga lebih mudah dipahami. Contoh dapat berupa cerita yang terperinci dan tidak terperinci.</p>
<p>Yang pertama disebut illustrasi (illustration), yang kedua disebut permisalan (specific instances)</p>
<p>Ilustrasi: hipotetis dan faktual</p>
<p>3. Analogi</p>
<p>Analogi adalah perbandingan antara dua hal atau lebih untuk menunjukkan persamaan dan perbedaannya</p>
<p>4. Testimoni</p>
<p>Adalah pernyataan ahli yang kita kutip untuk menunjang gagasan</p>
<p>5. Statistik</p>
<p>Statistik adalah angka-angka yang dipergunakan untuk menunjukkan perbandingan kasus dalam jenis tertentu. Statistik diambil untuk menimbulkan kesan kuat, memperjelas dan meyakinkan.</p>
<p>6. Perulangan</p>
<p>Perulangan dapat menimbulkan kesan yang kuat. Namun agar tidak membosankan, sebutkan gagasan dengan kata-kata yang berbeda</p>
<p>FORMAT PESAN</p>
<p>Format pesan berhubungan dengan bagaimana pesan disajikan atau dihidangkan baik secara verbal maupun non verbal. Membaca membutuhkan usaha mental yang besar. Isi karya tulis yang baik, yang sudah tersusun dan terorganisasikan dengan bagus bisa jadi tersia-sia hanya karena penulis salah menghidangkan pesan.</p>
<p>Menghidangkan pesan secara verbal berhubungan dengan keprigelan penulis menggunakan dan memilih kata, merangkaikannya menjadi kalimat demi kalimat sehingga tersaji sebuah tulisan yang utuh, enak dibaca, mudah dicerna.</p>
<p>Menghidangkan pesan secara non verbal berhubungan dengan kemampuan penulis memadukan semua unsur visual yang dipergunakan, seperti penggunaan jenis huruf, ukuran, illustrasi gambar, warna, dsb. sehingga terhidang sebuah karya yang menarik dan memenuhi selera artistik, mengundang minat, nyaman dibaca, tidak melelahkan mata, dan memberi dukungan bagi kemudahan pemahaman.</p>
<p>Format Verbal</p>
<p>Memilih Kata</p>
<p>Pada saat membaca tulisan, pembaca jarang atau tidak pernah menyadari bahwa topik dipilih melalui proses perenungan, pesan disusun dan diorganisasikan sedemikian rupa. Tetapi setiap pembaca tahu pasti penulis yang baik selalu pandai memilih kata-kata</p>
<p>Kata-kata harus jelas</p>
<p>            Gunakan istilah yang spesifik</p>
<p>            Gunakan kata-kata sederhana</p>
<p>            Hindari istilah-istilah teknis</p>
<p>            Berhemat dalam penggunaan kata-kata</p>
<p>            Gunakan perulangan atau pernyataan kembali gagasan yang sama dengan kata          </p>
<p>            berbeda</p>
<p>Kata-Kata harus tepat</p>
<p>            Hindari kata-kata klise</p>
<p>            Gunakan bahasan pasaran secara hati-hati</p>
<p>            Hati-hati dalam penggunaan kata-kata pungut</p>
<p>            Hindari vulgarisme dan kata-kata yang tidak sopan</p>
<p>            Jangan menggunakan penyuluhan</p>
<p>            Jangan menggunakan euphisme berlebihan</p>
<p>Kata-kata harus menarik</p>
<p>            Pilih kata yang menyentuh langsung diri pembaca</p>
<p>            Gunakan kata berona</p>
<p>            Gunakan bahasa figuratif</p>
<p>            Gunakan kata-kata tindak</p>
<p>           </p>
<p>Non Verbal</p>
<p>Karena menghidangkan pesan secara non verbal ke sidang pembaca menjadi urusan pihak media, kita tidak bisa berbuat banyak. Namun sekurang-kurangnya kita harus menghidangkan pesan sebaik mungkin ke pihak redaksi sesuai criteria yang disyaratkan, misalnya</p>
<ul>
<li>1. Gunakan jenis dan ukuran huruf yang diminta (biasanya Times New Roman 12pt)</li>
<li>2. Pilih spasi yang diminta (biasanya 1,5 atau 2)</li>
<li>3. Lengkapi foto jika dibutuhkan</li>
<li>4. Serahkan softcopy jika diminta (akan memudahkan pihak media)</li>
<li>5. Gunakan e-mail jika tersedia</li>
</ul>
<p>           </p>
<p>SUMBER PESAN</p>
<p>            Sumber pesan berhubungan dengan siapa yang menyampaikan pesan. Dalam banyak kasus, artikel mencantumkan  nama penulisnya secara pribadi. Namun ketika artikel digunakan sebagai sarana promosi bukan hal tidak mungkin seseorang menulisnya untuk orang lain. Yang utama kredibilitas penulis lebih dipentingkan. Itu sebabnya lazim pula selain nama penulis dicantumkan identitas lain untuk membangun kredibitas.</p>
<p><b>MENULIS FEATURE</b></p>
<p><b></b></p>
<p>Feature masih tergolong tulisan berita, namun mengandung informasi &#8220;lebih&#8221; ketimbang berita biasa (news). Karena mengejar aktualitas news mungkin akan mengabaikan berbagai hal yang masih tersembunyi dalam memberitakan suatu peristiwa. Giliran feature segala yang tersembunyi tersebut diungkapkan kemudian secara lengkap. Karena kelengkapannya dalam penuturan fakta, peristiwa, proses, disertai latar belakang terjadinya, duduk perkaranya, proses pembentukannya, cara kerjanya, dll feature punya daya tarik tersendiri. Karena kekuatan daya tariknya, penulisan feature &#8220;mutlak&#8221; diperlukan oleh redaksi media cetak, baik harian, apalagi mingguan, dwi-mingguan dan bulanan. Feature merupakan alternative untuk mengimbangi pesaing dari media elektronik yang tak mungkin diungguli dalam hal aktualitas dan kecepatan informasi.</p>
<p>Ciri khas tulisan feature</p>
<ul>
<li>1. Mengandung human interst</li>
</ul>
<p>      Tulisan Feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi &#8211; menghibur, memunculkan empati, keharuan,dsb. Dengan kata lain sebuah feature harus mengandung segi human interest yang menyentuh rasa manusiawi</p>
<ul>
<li>2. Mengandung Unsur Sastra</li>
</ul>
<p>      Feature ditulis dengan gaya menulis fiksi. Karenanya feature mirip dengan sebuah cerpen &#8211; bacaan ringan dan menyenangkan &#8211; namun tetap informative dan factual. Itu sebabnya feature disebut soft news atau berita ringan yang menghibur.</p>
<p>Penulisan berita (news) sebagian besar dikerjakan oleh orang dalam  media (wartawan), namun penulisan feature terbuka untuk siapapun selama memenuhi criteria penulisan disyaratkan media yang bersangkutan. Bagi lembaga yang bergelut sepenuhnya dalam bidang social tentunya hal ini merupakan peluang besar yang dapat bermanfaat bagi kegiatan promosi. Apalagi jika mengingat bahwa sebagai lembaga yang bergerak di bidang social tentunya memiliki ribuan rekaman peristiwa tentang beragam permasalahan social, ribuan data, ribuan kisah yang jika diolah akan menjadi cerita yang tak pernah ada habisnya.</p>
<p><b></b></p>
<p><b>PRESS RELEASE</b></p>
<p>Press release adalah surat berita yang ringkas, menarik perhatian, dan menggambarkan suatu event, kejadian atau isu yang penting. Pada umumnya digunakan sebagai cara pertama dan termudah agar event atau isu anda disebarluaskan oleh media. Tulis press release bila suatu yang layak diberitakan dialami atau dapat dihubungkan dengan lembaga anda. (bila press release anda sering tidak diberitakan, pihak media akan mulai mengabaikan berita-berita anda).</p>
<p>Beberapa jenis press release:</p>
<p>1. Release Penelitian, dikeluarkan bersamaan saat mengumumkan hasil penelitian. Agar diperoleh hasil yang optimu, release sebaiknya dilengkapi dengan press kit yang berisi Laporan Penelitian lengkap, intisari hasil pengolahan data penelitian (maksimum 2 halaman), beberapa foto yang menarik perhatian, dan kalau memungkinkan beberapa komentar atau pendapat ahli independen mengenai hasil penelitian departemen anda.</p>
<p>2. Release Reaksi, merupakan cara yang baik untuk memblow-up isu dan departemen anda di media massa. Bila terjadi sesuatu yang berhubungan dengan departemen anda sebaiknya anda siap untuk langsung bereaksi. Release jenis ini biasanya sangat singkat dan disebarkan ketika cerita baru mulai berkembang, dan berisi reaksi lembaga anda terhadap suatu kejadian/pernyataan penting.</p>
<p>3. Release Aksi/Event berisi informasi yang singkat dan padat mengenai apa dan mengapa suatu aksi/event anda lakukan.Release ini akan lebih bermanfaat jika dilengkapi dengan informasi latar belakang yang menjelaskan posisi lembaga anda sehubungan dengan isu yang diadvokasikan, serta informasi singkat dan jelas tentang pihak-pihak lain yang terlibat (PSKS, misalnya)</p>
<p>Beberapa tips untuk menulis sebuah press release</p>
<ul>
<li>1. Gunakan gaya bahasa jurnalistik, dengan kalimat dan paragraf yang sarat fakta</li>
<li>2. Masukkan semua W dalam kalimat atau paragraf pertama: Who? What? Why? When? Where?</li>
<li>3. Sampaikan informasi esensial dalam paragraph pertama dan manfaatkan paragraph-paragraf berikutnya untuk informasi yang lebih mendalam. Urutan paragraph seyogyanya menyajikan urutan prioritas informasi</li>
<li>4. Hindarkan pemakaian kutipan langsung dalam paragraph pertama. Setelah paragraph pertama, penggunaan kutipan yang bertanggungjawab dapat membuat press release anda lebih menarik dan berbobot. Sebutkan sumber kutipan anda beserta atributnya secara jelas.</li>
<li>5. Upayakan selalu singkat. Press release sebaiknya tidak lebih dari satu halaman.</li>
<li>6. Cetak release anda pada kertas Letter-Head yang menarik. Kertas dan kepala surat (yang memuat logo) yang menarik dan terkemas dalam amplop sejenis membantu release anda tampil menonjol di meja redaksi.</li>
<li>7. Ketik rata kiri saja. Gunakan spasi ganda atau minimum satu setengah.</li>
<li>8. Jangan ragu menekankan aspek controversial selama tidak merugikan lembaga &#8211; ini membantu menjelaskan posisi lembaga dan membantu untuk mendapat ruang di media.</li>
<li>9. Cantumkan nomor telepon dan nama yang bias dihubungi pada release anda. Pastikan orang tersebut selalu siap menjawab pertanyaan (cukup menguasai isu) dan siap dihubungi.</li>
<li>10. Gunakan fakta dan angka sesuai kebutuhan. Ini membuat berita anda tampil lebih solid dan sangat membantu redaksi jika akan membuat re-write terhadap release anda.</li>
</ul>
<p><b></b></p>
<p><b>SURAT PEMBACA</b></p>
<p><b></b></p>
<p>Surat pembaca (atau apapun namananya) adalah ruang terbuka di media cetak untuk diisi oleh siapa pun pembaca, baik secara perorangan maupun mewakili suatu lembaga. Penelitian memberikan bukti yang meyakinkan bahwa ruang di media massa cetak ini merupakan bagian yang tak pernah dilewatkan untuk dibaca oleh sebagian besar pembaca. Adanya kedekatan dan kesamaan posisi (sebagai pembaca), adanya persamaan pengalaman terhadap masalah-masalah yang diutarakan (karena umumnya masalah-masalah keseharian dan bersifat public), ruang Surat Pembaca banyak penggemar.</p>
<p>Bagi pihak media sendiri, ruang Surat Pembaca bukanlah semata hanya untuk menampung keluh kesah. Sebagian diantaranya bahkan dijadikan bahan dasar untuk investigasi lebih lanjut.</p>
<p>Bagi lembaga yang memiliki komitmen tinggi terhadap advokasi social, ruang Surat Pembaca seyogyanya dilirik sebagai wahana penyebarluasan isu yang senantiasa dimanfaatkan secara rutin. Bahkan untuk isu tertentu, lembaga dapat mengorganisir agar sejumlah media kebanjiran surat-surat yang mengungkap masalah yang sama.</p>
<p>Beberapa Tips untuk Pemanfaatan Ruang Surat Pembaca sebagai media promosi</p>
<ul>
<li>1. Pilih isu yang bersifat publik, terutama yang tengah popular</li>
<li>2. Jika menyangkut isu-isu lama, hubungkan dengan kejadian-kejadian penting yang tengah terjadi (pengungsi, pekerja migrant, kemiskinan dengan bencana alam) atau hari-hari yang akan diperingati (wanita rawan social dengan Hari Kartini, anak terlantar, anak nakal dengan Hari Anak-Anak Nasional, dsb.)</li>
<li>3. Gunakan orang (pengirim surat) dari luar lembaga. Kalau terpaksa, bisa saja asal pada KTP tidak memuat status sebagai karyawan Lembaga tersebut (karena umumnya pengirim surat wajib melampirkan KTP)</li>
<li>4. Jangan pernah menggunakan identitas pengirim surat yang sama</li>
<li>5. Sekali-kali pihak lembaga mengirim surat balasan/penjelasan terhadap suatu isu pada surat pembaca yang muncul(yang dibuat sendiri)</li>
</ul>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=45&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/promosi-lewat-tulisan-di-media-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selintas tentang KOMUNIKASI</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/selintas-tentang-komunikasi/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/selintas-tentang-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 10:43:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/selintas-tentang-komunikasi/</guid>
		<description><![CDATA[Di  sebuah kamar belajar seorang anak muda tampak serius membaca buku. Pikirannya sibuk berusaha memecahkan persoalan yang kurang dipahaminya. Di ruangan lain seorang gadis cantik  asyik mendengarkan siaran radio swasta yang menyuguhkan acara &#8220;untuk remaja putri&#8221;. Sang ibu tidak ada di rumah. Ia belum pulang mengajar siswanya di sebuah sekolah menengah atas. Sedangkan sang bapak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=44&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#808080">Di  sebuah kamar belajar seorang anak muda tampak serius membaca buku. Pikirannya sibuk berusaha memecahkan persoalan yang kurang dipahaminya. Di ruangan lain seorang gadis cantik  asyik mendengarkan siaran radio swasta yang menyuguhkan acara &#8220;untuk remaja putri&#8221;. Sang ibu tidak ada di rumah. Ia belum pulang mengajar siswanya di sebuah sekolah menengah atas. Sedangkan sang bapak di beranda depan, bercakap-cakap dengan teman sejawat, sesama dosen pengajar. Sebagian dari percakapan pada sore itu menyangkut situasi kampanye para kontestan menjelang pemilu yang akan dilaksanakan.Ketika keduanya asyik bertukar pandangan, serombongan truk dan berbagai kendaraan terbuka berjajar panjang melintas lewat jalan di hadapan rumah. Masing-masing bermuatan sejumlah orang berseragam kaus berwarna  sama. Yel-yel berupa dukungan terhadap sebuah partai politik diteriakkan dan disambut riuh para simpatisan &#8211; pejalan kaki di trotoar. Mereka (arak-arakan itu) baru saja pulang mengikuti &#8220;rapat akbar&#8221; yang dipimpin langsung ketua partainya. </font></p>
<p><font color="#808080">Tepat  di sebuah persimpangan &#8211; dimana setiap sudutnya dihiasi papan-papan reklame berbagai produk yang ditata aneka warna berusaha memikat peminat, calon konsumen &#8211; sebuah lampu pengatur  lalu-lintas menyala berwarna merah. Arak-arakan berhenti. Baru kemudian setelah lampu merah berganti nyala kuning lalu hijau, arak-arakan pun melanjutkan perjalanannya.</font></p>
<p><font color="#808080">Belum sampai seluruh rombongan sempat menyebrang, dari arah persimpangan lain terdengar bunyi sirine meraung nyaring. Sebuah kereta jenazah tampak diiringi barisan para pelayat melaju cepat.  Sebagian arak-arakan  yang  tertinggal  tadi kembali berhenti, padahal lampu pengatur lalu-lintas masih menyala hijau. Yel-yel yang bergema pun sejenak senyap hingga barisan akhir  kendaraan  pengantar kereta jenazah melintas persimpangan jalan.</font></p>
<p>Kisah pendek ini memuat sejumlah contoh kegiatan manusia yang sering digeneralisasikan ke dalam konsep komunikasi. Wilbur Schramm dalam karyanya &#8220;How Communication Works&#8221; mengatakan:</p>
<p><font color="#808080">Komunikasi  (communication berasal dari perkataan Latin &#8220;communis&#8221;, yang berarti  &#8220;sama&#8221; (common). Jika kita melakukan komunikasi, kita sedang berusaha mengadakan &#8220;kesamaan&#8221; (commoness)  dengan  orang lain. (Effendy 1981 a; 37)</font></p>
<p>Dua pihak, paling tidak, tampaknya harus terlibat dalam kegiatan yang berlangsung. Apa sebenarnya yang dilakukan dan dipersamakan oleh kedua belah pihak yang turut serta dalam proses komunikasi ?</p>
<p><font color="#808080">Peserta yang satu harus mengutarakan gagasan dengan menggunakan salah satu media yang tersedia &#8230;Kemudian informasi yang telah diciptakan oleh peserta yang satu harus dimanfaatkan bersama dengan peserta yang lain &#8230; Proses saling ber-bagi atau menggunakan informasi secara bersama, dan pertalian antara para pe-serta dalam proses informasi, disebut komunikasi. (Kincaid dan Schramm 1984; 6)</font></p>
<p>Dalam kesemua contoh yang telah disebut terlihat kedua belah pihak yang turut mengambil bagian dalam proses komunikasi terlibat dalam suatu tindakan &#8220;menciptakan&#8221; dan &#8220;memanfaatkan&#8221; informasi;  antara penulis  dan  pembaca, pembaca dengan dirinya sendiri, penyiar dengan pendengar, guru dengan sekelompok siswa, sang bapak dengan kawannya, pelaku kampanye dengan masyarakat sepanjang  jalan,  pemimpin partai dengan massa pendukung, pengatur lalu-lintas dengan pemakai jasa jalan raya, sopir mobil jenazah dengan para pelintas. Kedua tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak, kalau disederhanakan biasa disebut dengan istilah &#8220;memberi&#8221; dan &#8220;menerima&#8221;.</p>
<p>Selanjutnya Schramm menjelaskan :</p>
<p><font color="#808080">&#8230; komunikasi pada hakekatnya adalah membuat si  penerima dan  pemberi sama-sama &#8220;setala&#8221; (tuned) untuk suatu pesan. (Effendy 1981 a; 37)</font></p>
<p>Lalu apa yang terjadi ketika pemberi/sumber pesan berusaha membentuk kesamaan dengan penerima?</p>
<p><font color="#808080">Pertama-tama  sumber &#8220;meng-encode&#8221; pesannya, yaitu ia mengambil informasi yang akan ia berikan, lalu ia tuangkan dalam bentuk yang dapat dikirimkan. &#8220;Gambaran dalam otak kita&#8221; (pictures in our  heads) tak mungkin dapat dioperkan atau disiarkan, kecuali kalau sudah &#8220;di-code&#8221;. (Effendy 1981 a; 38)</font></p>
<p>Tanpa &#8220;peng-code-an&#8221;, informasi dalam pikiran sumber tak mungkin dapat dikirimkan. &#8220;Code&#8221; bukanlah sesuatu yang penuh rahasia. &#8220;Code&#8221; atau sandi:</p>
<p><font color="#808080">cuma merupakan jenis pola khusus yang mendapat bentuk umum. Membuat bentuk umum ini dilakukan dengan memakai serangkaian ketentuan sistematis yang dapat dipelajari oleh lebih dari satu orang. (Kincaid dan Schramm 1984; 99)</font></p>
<p>&#8220;Menyusun Code&#8221; pesan &#8211; dengan mengambil informasi dari pikiran dan dituangkan dalam bentuk yang dapat dikirimkan &#8211; dalam bentuk fisiknya diwujudkan dalam bentuk lambang-lambang.</p>
<p><font color="#808080">Komunikasi adalah proses penyampaian lambang-lambang yang berarti oleh seseorang kepada orang lain baik dengan maksud agar mengerti maupun berubah tingkah laku. (Effendy 1981 b; 28)</font></p>
<p>Sehingga,  setelah sumber &#8220;meng-encode&#8221; pesannya dengan menggunakan lambang-lambang yang dapat dikirimkan maka giliran penerima dapat mengamati dan menafsirkan code yang berbentuk lambang tersebut  ke dalam konteks pengertiannya; komunikan &#8220;men-decode&#8221; pesan yang diterimanya. Raymond S. Ross dalam bukunya &#8220;Persuasion: Communication and Interpersonal Relations&#8221; menyimpulkan, komunikasi adalah :</p>
<p><font color="#808080">proses  transaksional  yang meliputi pemisahan dan pemilihan lambang secara kognitif, begitu rupa sehingga membantu orang lain untuk mengeluarkan arti atau respon yang sama dengan yang  dimaksud  oleh sumber.</font></p>
<p>Lambang dapat berupa bahasa, gerak, bunyi, cahaya, gambar, warna, dan lain-lain. Masing masing lambang dipilih tergantung dari jenis media komunikasi yang dipergunakan.</p>
<p><font color="#808080">Lambang adalah benda atau obyek material yang nilai atau arti yang ada padanya ditetapkan oleh yang menggunakan obyek itu sebagai lambang. (Harsoyo 1977; 14)</font></p>
<p>Leslie A. White di dalam bukunya &#8220;The Symbol, The Origin, And Basis Of Human Behaviour&#8221;, menjelaskan :</p>
<p><font color="#808080">Nilai atau arti pada lambang itu sama sekali tidak terikat secara intrinsik kepada benda sendiri. (Harsoyo 1977; 114)</font></p>
<p>Warna  baju  sebagai lambang untuk mengkomunikasikan pesan &#8220;berduka cita&#8221;, misalnya, tidaklah harus berwarna hitam. Dapat saja warna yang dipergunakan putih, abu-abu, biru, atau  ungu.  Demikian  juga sebaliknya, warna hitam baju yang dikenakan oleh seseorang tidak selalu melambangkan pesan duka cita. Warna hitam pada hakekatnya tidak berarti apa-apa bagi seseorang jika tidak dilekatkan pada situa­si tertentu. Oranglah yang memberikannya arti.</p>
<p><font color="#808080">Kemampuan  untuk memberikan arti secara aktif pada suatu obyek material adalah kemampuan berlambang yang hanya ada pada manusia, sedang hewan hanya menggunakan tanda saja. Atau dengan  perkataan  lain bagi hewan untuk satu sti-mulus indrani hanya ada satu macam respon saja. Manusia dapat menetapkan res-pon yang tidak terbatas jumlahnya untuk satu stimulus indrani. (Harsoyo 1977; 115)</font></p>
<p>Bunyi sirine dari mobil jenazah seperti pernah dicontohkan, sebagai lambang, mungkin hanya bermaksud memberi pesan: &#8220;Kami iring-iringan pengantar jenazah dalam rombongan yang panjang. Beri kami  jalan sejenak untuk leluasa lewat, agar jalan yang kita gunakan bersama tidak menjadi macet karenanya.&#8221;</p>
<p>Respon  bagi penerima stimuli &#8220;bunyi sirine&#8221; dapat bermacam-macam. Seseorang di dalam gang mungkin menafsirkan &#8220;ada kejar-kejaran antara polisi dengan pelanggar hukum&#8221;, ia lalu berlari  menuju  jalan. Atau,  &#8221;ada kebakaran&#8221; ia pun mendongkak ke atas langit, kalau-kalau ada kepulan asap membumbung tinggi. Mungkin pula seseorang menafsirkan &#8220;waktu dimulainya kerja bakti&#8221;, ia lalu  bergegas  mengambil sapulidi.  Sedangkan  bagi  rombongan pelaku kampanye yang teringgal di persimpangan &#8211; seperti telah dicontohkan &#8211; mungkin diartikan : &#8220;Bunyi sirine dari kereta jenazah  rupanya.  Rombongan  pengantar begitu panjang. Almarhum tentu orang yang dihormati. Kami pun ingin menghormatinya&#8221;, maka arak-arakan bukan saja berhenti ketika lampu pengatur lalu lintas masih menyala hijau, tetapi  teriakan-teria­kan pun senyap sejenak.</p>
<p>Dari  uraian  tersebut ditunjukkan bahwa lambang hanya bertindak selaku perangsang (stimuli) untuk membangkitkan balasan dari pihak penerima pesan. Suatu stimuli &#8211; dalam hal ini bunyi sirine  -  dapat melahirkan penafsiran yang beraneka ragam. Walaupun peristiwanya sama dapat saja orang memaknainya berbeda-beda. Para psikolog Gestalt mengatakan:</p>
<p><font color="#808080">Manusia tidak memberikan respons pada stimuli secara otomatis. Manusia adalah organisme yang aktif yang menafsirkan dan bahkan mendistorsi lingkungan &#8230; Ma-nusialah yang menentukan makna stimuli  itu, bukan stimuli itu sendiri. (Rakhmat 1985; 33)</font></p>
<p>Jadi dapatlah kiranya dikatakan bahwa suatu pesan yang dinyatakan dengan lambang-lambang sebenarnya tidak bermakna, karena hanya merupakan bentuk-bentuk perubahan wujud yang berguna untuk membantu berlangsungnya komunikasi. Penjelasan berikut memperjelas kesimpulan ini :</p>
<p><font color="#808080">Pesan-pesan dalam komunikasi merupakan hal yang lahiriah yang terlepas dan sama sekali tidak bermakna sampai ada yang menafsirkan makna ke dalamnya &#8230; Makna baru timbul jika seseorang mengamati pesan itu dan kemudian menafsirkannya dengan jalan menerapkan konsep-konsep yang dimiliki terhadapnya (Kincaid dan Schramm 1984; 99)</font></p>
<p>Makna baru timbul pada diri si penerima adalah balasan terhadap pesan yang disampaikan oleh sumber. Antara pesan yang disampaikan dengan cara orang menafsirkan tidak terdapat hubungan yang tunggal. Balasan bisa bermacam-macam. Kenyataan ini sangat membatasi tingkat keberhasilan yang hendak dicapai dalam proses komunikasi, yaitu terbentuknya &#8220;kesamaan&#8221; anatara kedua belah pihak  yang  terlibat. Untuk meningkatkan keberhasilan suatu akhir dari proses komunikasi Wilbur Schramm dalam karyanya &#8220;Communication Research in The United States&#8221; mengemukakan :</p>
<p><font color="#808080">&#8230; komunikasi akan berhasil, apabila pesan yang disampaikan komunikator (sum-ber) cocok dengan frame of reference &#8211; yakni dengan pengalaman dan pengertian (collection  of experiences and meanings)  -  yang diperoleh komunikan (penerima). (Effendy 1981 b; 32)</font></p>
<p>Selanjutnya Schramm mengatakan pula :</p>
<p><font color="#808080">Bidang  pengalaman (field of experience) merupakan faktor yang penting dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung  dengan lancar. Sebaliknya bila pengalaman komunikan berlainan akan terdapat kesukaran untuk mengerti satu sama lain. (Effendy 1981 b; 33)</font></p>
<p>Namun, agaknya dapat disepakati, mustahil terdapat dua orang yang memiliki bidang pengalaman yang persis sama. Oleh karena itu konsep-konsep yang dimiliki untuk menafsirkan suatu pesan pun tidak  akan pernah  &#8221;persis sama&#8221;. Istilah &#8220;mirip&#8221; atau &#8220;serupa&#8221; mungkin lebih tepat. Sehingga dapat dikatakan &#8211; sekalipun telah disebutkan sebelumnya bahwa komunikasi bertujuan untuk membentuk kesamaan  -  makna yang timbul pada diri si penerima hasil menafsirkan pesan dari sumber hanyalah dapat saling menghampiri atau saling menyerupai saja.</p>
<p>Agar dapat memperoleh makna yang &#8220;serupa&#8221;, masing-masing pihak dapat berkomunikasi berkali-kali, sampai kedua belah pihak dapat memahami maksud pihak lainnya. Jadi pesan digunakan pihak-pihak  peserta sampai mereka memusat kepada makna masing-masing mengenai informasi yang dikandung dalam lambang-lambang yang mereka gunakan bersama.</p>
<p><font color="#808080">Memusat,  artinya  bergerak saling mendekati, atau menuju suatu titik bersama. Jika diterapkan pada proses komunikasi, maka &#8220;memusat&#8221; berarti bergerak menuju pertambahan  pengertian  bersama  mengenai maksud atau pokok pandangan pihak masing-masing. (Kincaid dan Schramm 1984; 100)</font></p>
<p>Sampai  di  sini dapat disimpulkan bahwa hasil akhir dari proses saling berbagi informasi dengan menggunakan lambang-lambang dipilih sedemikian rupa oleh para peserta komunikasi adalah guna memusat, menuju saling pengertian yang lebih besar atau serupa tentang makna masing-masing pihak.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=44&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/selintas-tentang-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alat-Alat Komunikasi Pemasaran</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/18/alat-alat-komunikasi-pemasaran-promosi/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/18/alat-alat-komunikasi-pemasaran-promosi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 19:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Bauran Komunikasi Pemasaran (Promosi)  terdiri atas lima alat komunikasi utama:   Periklanan: Semua bentuk penyajian dan promosi nonpersonal atas ide, barang atau jasa yang dilakukan oleh perusahaan sponsor tertentu. Promosi Penjualan: Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa. Hubungan masyarakat dan publisitas: Berbagai program untuk mempromosikan dan/atau melindungi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=20&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Bauran Komunikasi Pemasaran (Promosi)<span>  </span>terdiri atas lima alat komunikasi utama:</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"></font></span></p>
<ul>
<li> 
<ul>
<li>
<div><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Periklanan: Semua bentuk penyajian dan promosi nonpersonal atas ide, barang atau jasa yang dilakukan oleh perusahaan sponsor tertentu.</font></span></div>
</li>
<li>
<div><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Promosi Penjualan: Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa.</font></span></div>
</li>
<li>
<div><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Hubungan masyarakat dan publisitas: Berbagai program untuk mempromosikan dan/atau melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya.</font></span></div>
</li>
<li>
<div><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Penjualan pribadi: Interaksi langsung dengan satu calon pembeli atau lebih guna melakukan presentasi, menjawab pertanyaan, dan menerima pesanan.</font></span></div>
</li>
<li>
<div><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Pemasaran langsung: Penggunaan surat, telepon, faksimil, e-mail, dan alat penghubung nonpersonal lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan dan calon pelanggan tertentu.</font></span></div>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"></font></span><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Periklanan</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"></span></b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"></font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Karena banyaknya bentuk dan penggunaan periklanan, sangat sulit untuk membuat generalisasi yang merangkum semuanya. Namun, sifat-sifat berikut dapat diper­hatikan:</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"> </font></span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Presentasi umum: Periklanan yang bersifat umum itu memberikan semacam keab­sahan pada produk dan menyarankan tawaran yang terstandardisasi. Karena banyak orang menerima pesan yang sama, pembeli mengetahui bahwa motif mereka untuk membeli produk tersebut akan dimaklumi oleh umum.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Tersebar luas: Periklanan adalah medium yang berdaya sebar luas yang memung­kinkan penjual mengulang pesan berkali-kali. iklan juga memungkinkan pembeli menerima dan membandingkan pesan dari berbagai pesaing. Periklanan berskala besar oleh seorang penjual menyiratkan hal yang positif tentang ukuran., keku­atan, dan keberhasilan penjual.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Ekspresi yang lebih kuat: Periklanan memberikan peluang untuk mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui penggunaan cetakan, suara, dan warna yang penuh seni.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Tidak bersifat pribadi: Audiens tidak merasa wajib untuk memperhatikan atau menanggapi. Iklan hanya mampu melakukan monolog, bukan dialog, dengan audiens.</font></span></li>
</ul>
<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"></font></span><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Promosi Penjualan</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"></span></b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Walaupun alat promosi penjualan-kupon, kontes, harga premi, dan sejenisnya­ sangat beragam, semuanya memberikan tiga manfaat yang berbeda:</font></span></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Komunikasi: Promosi penjualan menarik perhatian dan biasanya meinberikan informasi yang dapat mengarahkan konsumen ke produk bersangkutan.</font></span></div>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Insentif Promosi penjualan menggabungkan sejumlah kebebasan, dorongan, atau kontribusi yang memberi nilai bagi konsumen.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Ajakan: Promosi penjualan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi pembelian sekarang.</font></span></li>
</ul>
<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Perusahaan menggunakan alat-alat promosi penjualan itu untuk menciptakan tanggapan yang lebih kuat dan lebih cepat. Promosi penjualan dapat digunakan untuk mendapatkan akibat jangka pendek seperti mendramatisir tawaran produk dan men­dorong penjualan yang lentur.</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"> </font></span></p>
<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"></span><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Hubungan Masyarakat dan Publisitas</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"></span></b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"></font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Daya tarik hubungan masyarakat dan publisitas didasarkan pada tiga sifat khusus: </font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"></font></span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Kredibilitas yang tinggi: Ceritera dan gambar mengenai beritanya lebih otentik dan dipercaya oleh pembaca dibandingkan dengan iklan.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Kemampuan menangkap pembeli yang tidak dibidik sebelumnya: Hubungan masyarakat dapat menjangkau banyak calon pembeli yang cenderung menghin­dari wiraniaga dan iklan.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Dramatisasi: Hubungan masyarakat memiliki kemampuan untuk mendramatisasi suatu perusahaan atau produk.</font></span></li>
</ul>
<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"></font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Pemasar cenderung kurang menggunakan hubungan masyarakat; tetapi program hubungan masyarakat yang direncanakan dengan baik dan dikoordinasikan dengar elemen bauran promosi yang lain dapat menjadi sangat efektif.</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"> </font></span></p>
<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"></span><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Penjualan personal</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"></span></b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Penjualan personal adalah alat yang paling efektif-biaya pada tahap proses pembeliar lebih lanjut, terutama dalam membangun preferensi, keyakinan, dan tindakan pem­beli. Penjualan personal, memiliki tiga ciri khusus:</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"> </font></span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><font size="2"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';">Konfrontasi personal: Penjualan personal mencakup hubungan yang hidup, lang­sung dan interaktif antara dua orang atau lebih. </span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';">Masing-masing pihak dapat mengobservasi reaksi dari pihak lain dengan lebih dekat.</span></font></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Mempererat: Penjualan personal memungkinkan timbulnya berbagai jenis hubungar mulai dari hubungan penjualan sampai hubungan persahabatan. Wiraniaga biasa­nya sudah benar-benar mengetahui_ minat pelanggan yang terbaik.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Tanggapan: Penjualan personal membuat pembeli merasa berkewajiban untuk mendengarkan pembicaraan wiraniaga.</font></span></li>
</ul>
<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"></font></span><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Pemasaran Langsung</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"></span></b><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Meski terdapat berbagai bentuk pemasaran langsung-surat langsung, pemasaran jarak jauh, pemasaran elektronik, dan sebagainya-semuanya memiliki empat karakteristik berikut. Pemasaran langsung bersifat:</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2"> </font></span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Nonpublik: Pesan biasanya ditujukan kepada orang tertentu.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Disesuaikan: Pesan dapat disiapkan untuk menarik orang yang dituju.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Terbaru: Pesan dapat disiapkan dengan sangat cepat.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Interaktif: Pesan dapat diubah tergantung pada tanggapan orang tersebut</font></span></li>
</ul>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=20&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/18/alat-alat-komunikasi-pemasaran-promosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknik Presentasi</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/teknik-presentasi/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/teknik-presentasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 22:32:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Pemasaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[PRESENTASI adalah kegiatan penyampaian pesan yang dilakukan secara tatap muka pada sejumlah orang dengan tujuan tertentu Penyampaian secara tatap muka berarti: saling berhadapan saling mengetahui reaksi masing-masing terbuka munculnya umpan balik terbuka situasi komunikasi dua arah Cara penyampaian pesan secara tatap muka tanpa alat bantu menggunakan alat bantu Tanpa Alat Bantu Verbal Pengucapan bahasa lisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=11&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">PRESENTASI adalah kegiatan penyampaian pesan yang dilakukan secara tatap muka pada sejumlah orang dengan tujuan tertentu</span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></p>
<p style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Penyampaian secara tatap muka berarti:</span></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">saling berhadapan </span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">saling mengetahui reaksi masing-masing</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">terbuka munculnya umpan balik</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">terbuka situasi komunikasi dua arah</span></div>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Cara penyampaian pesan secara tatap muka</span></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">tanpa alat bantu</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">menggunakan alat bantu</span></div>
</li>
</ul>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Tanpa Alat Bantu</span></b></p>
<p style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Verbal</span></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Pengucapan bahasa lisan</span></div>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Non Verbal</span></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Pakaian</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Gerakan Tubuh</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Kontak Mata</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Ekspresi Wajah</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Kontrol Suara</span></div>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Menggunakan Alat Bantu</span></b></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Pengeras suara</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Black/White board</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Flipchart</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Over Head Projector (OHP)</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Slide Projector</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Opaque Projector</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Film Projector</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Computer Presentation Projector (CCP)</span></div>
</li>
</ul>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Tahapan melakukan Presentasi yang Efektif</span></b></p>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Analisis audiens</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Menetapkan tujuan</span></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">menjelaskan</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">mempengaruhi sikap</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">mendorong ke arah perilaku tertentu</span></div>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Merencanakan pesan </span></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">isi pesan (apa yang akan dikatakan?)</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">struktur pesan (bagaimana pesan disusun &amp; diorganisasikan?)</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">format pesan (bagaimana pesan disajikan/dihidangkan?)</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">sumber pesan (siapa yang akan menyampaikan?)</span></div>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Produksi pesan (menyusun rancangan media) </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Melak</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">sanakan</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> presentasi</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Evaluasi</span></p>
<p style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></b></p>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Keuntungan media OHP</span></b></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Pembicara menghadap audiens</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Bahan bisa disiapkan terlebih dahulu</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Susunan, tambahan dan perubahan dapat diberikan selama presentasi</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Ruangan tidak perlu digelapkan sama sekali</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Kemungkinan menyajikan sekuen dengan overlays</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Mempermudah dalam menyampaikan isi informasi</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Menarik dan mengarahkan perhatian</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Membantu mengekalkan ingatan</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Menolong menguraikan sesuatu yang muskil</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -0.5in 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Memberikan uniformitas/kesamaan dalam pengamatan</span></div>
</li>
</ul>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan OHP</span></b></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Jaga kontak mata dengan audiens</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Tak perlu menoleh ke layar karena apa yang tampak<span>  </span>di layar ada di hadapan anda</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Andalah pusat perhatian dan bukan layar proyeksi</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -0.5in 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Matikan OHP saat anda memberikan penjelasan lisan</span></div>
</li>
</ul>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Hal-hal yang perlu diperhatikan saat membuat </span></b><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Over Head Tranparancy (OHT)</span></b></p>
<ul>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Bidang tempat menyimpan OHT pada OHP berbentuk segi empat</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Maksimum tulisan/gambar pada OHT harus termuat dalam format ukuran 20 x 20 cm<sup>2</sup></span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Jenis Huruf disarankan menggunakan sans serif</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Penggunaan tulisan tangan disarankan menggunakan huruf besar</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Penggunaan huruf besar tidak disarankan untuk penulisan naskah yang panjang</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Penggunaan warna sangat disarankan untuk memberikan tekanan</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Ukuran Huruf disarankan tidak kurang dari 20 pt (+ 0,5 cm)</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Spasi antar huruf, kata, baris jangan terlalu rapat</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Tulisan yang dimuatkan dalam OHT hanya kata-kata kunci</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Disarankan menggunakan bingkai, untuk memuatkan uraian dari kata-kata kunci pada OHT</span></div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 -4.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Disarankan menggunakan bingkai, jika akan menggunakan sekuen dengan overlays</span></div>
</li>
</ul>
<p></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=11&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/teknik-presentasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Email Marketing</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/tips-email-marketing/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/tips-email-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 22:27:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Pemasaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/tips-email-marketing/</guid>
		<description><![CDATA[Apabila kita menyamakan situs Anda dengan sebuah toko yang terletak di mal, maka Anda pasti akan sangat senang apabila toko/situs Anda mendapatkan tingkat kunjungan yang tinggi. Secara teoritis, semakin banyak pengunjung, semakin tinggi pula jumlah pengunjung yang berpotensi menjadi pembeli.Tentunya tidak semua orang yang mengunjungi situs/toko Anda akan berubah menjadi pembeli. Pasti ada pengunjung yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=10&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:9pt;color:#635f5f;line-height:120%;font-family:'Verdana','sans-serif';">Apabila kita menyamakan situs Anda dengan sebuah toko yang terletak di mal, maka Anda pasti akan sangat senang apabila toko/situs Anda mendapatkan tingkat kunjungan yang tinggi. Secara teoritis, semakin banyak pengunjung, semakin tinggi pula jumlah pengunjung yang berpotensi menjadi pembeli.</span><span style="font-size:9pt;color:#635f5f;line-height:120%;font-family:'Verdana','sans-serif';">Tentunya tidak semua orang yang mengunjungi situs/toko Anda akan berubah menjadi pembeli. Pasti ada pengunjung yang hanya tertarik untuk melihat-lihat produk Anda terlebih dahulu. Apakah ada jaminan bahwa pengunjung-pengunjung yang tidak membeli produk Anda akan mengingat tentang situs/toko Anda ketika tiba saatnya untuk melakukan pembelian? Kemungkinan besar tidak. Di sinilah peranan Email Marketing (dan mengumpulkan email pengunjung) sangat penting.</span><span style="font-size:9pt;color:#635f5f;line-height:120%;font-family:'Verdana','sans-serif';"><span style="font-size:9pt;color:#635f5f;line-height:120%;font-family:'Verdana','sans-serif';">Dengan mengumpulkan email dari pengunjung yang tidak melakukan pembelian, secara tidak langsung Anda telah mendapatkan ijin untuk membangun jalur komunikasi langsung dengannya dan memastikan bahwa calon konsumen tetap ingat dengan situs Anda. Apabila Anda secara periodik mengirimkan email newsletter, lama-kelamaan situs Anda akan selalu diingat olehnya.</span><span style="font-size:9pt;color:#635f5f;line-height:120%;font-family:'Verdana','sans-serif';">Namun bagaimanakah caranya mendapatkan email pengunjung Anda? Orang tidak akan mau memberikan sesuatu tanpa mendapatkan “imbalan”, terutama di jaman banjir spam seperti sekarang ini. Tawarkanlah sesuatu yang memiliki nilai tambah baginya seperti tips ataupun tawaran khusus via email. Apabila Anda menjual mobil, tawarkanlah tips merawat mobil. Apabila Anda menjual barang elektronik, tawarkanlah email promosi harga khusus bagi pengunjung yang mendaftarkan dirinya. Tentunya Anda harus mampu untuk deliver sesuai dengan promise Anda. Janganlah kecewakan pengunjung Anda dengan mengirimkan email yang tidak sesuai dengan janji Anda. </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=10&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/tips-email-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hubungan Masyarakat</title>
		<link>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/hubun6an-m-asyarakat/</link>
		<comments>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/hubun6an-m-asyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 22:25:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teddykw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Pemasaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/hubun6an-m-asyarakat/</guid>
		<description><![CDATA[Perusahaan tidak hanya harus berhubungan secara konstruktif dengan pelanggan, pemasok, dan penyalur, tetapi ia juga harus berhubungan dengan kelompok kepen­tingan masyarakat yang besar.. Kita mendefinisikan masyarakat sebagai berikut:Masyarakat (publik) adalah setiap kelompok yang memiliki kepentingan aktual dan potensial atau yang memiliki pengaruh terhadap kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Hubungan Masyarakat (humas) meli­batkan berbagai program yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=9&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Perusahaan tidak hanya harus berhubungan secara konstruktif dengan pelanggan, pemasok, dan penyalur, tetapi ia juga harus berhubungan dengan kelompok kepen­tingan masyarakat yang besar.. Kita mendefinisikan masyarakat sebagai berikut:</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Masyarakat (publik) adalah setiap kelompok yang memiliki kepentingan aktual dan potensial atau yang memiliki pengaruh terhadap kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Hubungan Masyarakat (humas) meli­batkan berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan/atau menjaga citra perusahaan atau tiap produknya.</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Masyarakat dapat mendukung atau menghalangi kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Humas terkadang diperlakukan sebagai anak tiri dari pemasaran, dan dipikirkan di belakang perencanaan promosi yang lebih serius. Tetapi perusahaan yang bijaksana mengambil langkah nyata untuk mengelola hubungan yang berhasil dengan masyarakat utamanya. Kebanyakan perusahaan mengoperasikan departemen hubungan masyarakat untuk merencanakan hubungan itu. Departemen humas memantau sikap publik dari organisasi itu serta membagikan informasi dan komu­nikasi untuk membangun hubungan baik. Bila terjadi publikasi negatif, departemen humas bertindak sebagai pemecah masalah. Departemen humas :yang terbaik meng­habiskan waktu untuk menasehati manajemen&#8217;puncak agar menggunakan program positif dan menghilangkan praktek-praktek yang kurang baik sehingga publisitas negatif itu tidak muncul ke muka. Departemen humas melaksanakan lima fungsi berikut:</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">1. Hubungan pers: Menyajikan berita dan informasi tentang organisasi secara sangat positif.</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">2. Ptablikasi produk: Mensponsori berbagai usaha untuk mempublikasikan produk tertentu.</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">3. Komur7ikasi perusahaan: Mempromosikan pemahaman tentang organisasi bersangkutan baik melalui komunikasi internal maupun eksternal.</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">Konser resmi pertama milenium baru akan berlangsung di Gisborne, New Zealand, yang menyebut dirinya kota pertama di dunia yang melihat ter­bitnya matahari setiap hari, pada pukul 12.01 pagi, Tahun Baru 2000. David Bowie akan tampil.</font></span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><font size="2">4. Lobi: Berhubungan dengan badan pembuat undang-undang dan pejabat peme­rintah guna mendukung atau menentang undang-undang dan peraturan.</font></span><font size="2"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';">5. Pemberian nasihat: Me nasihati manajemen mengenai masalah publik dan posisi serta citra perusahaan. Pemberian nasihat itu meliputi pemberian nasihat ketika terjadi kesaIahpahaman masyarakat terhadap </span><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"><a href="http://produk.bs/"><span style="color:blue;">produk.bs</span></a></span></font><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teddykw.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teddykw.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teddykw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teddykw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teddykw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teddykw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teddykw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teddykw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teddykw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teddykw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teddykw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teddykw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teddykw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teddykw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teddykw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teddykw.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teddykw.wordpress.com&amp;blog=2689413&amp;post=9&amp;subd=teddykw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teddykw.wordpress.com/2008/02/04/hubun6an-m-asyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70f6b60a285e9e09571667ccddf43433?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teddy kw</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
